Darah biru... Sejak memondok di sebuah pondok pesantren, istilah ini masih menyelimuti benak saya; ‘Darah Biru’ sebuah istilah yang ketika itu sempat menerbitkan kekaguman dan rasa terpesona saya bila seorang teman disebut-disebut masih ber-‘darah biru’. “Wah, Ahmad, anak pak kiai!” atau “Hei, si Syarif, anak pegawai anu tu...!” Seloroh-seloroh demikian kerap menjadi bahan perbualan di saat-saat senggang kami, para pelajar pondok. Dan, biasanya, bila orang yang dimaksud cerdas dan salih, saya dan teman-teman hanya boleh berkata: “Oh... Patutlah..!” Tapi, seiring waktu berjalan, saya mendapati seorang yang disebut berdarah biru itu tidak selamanya cerdas dan salih, tidak selamanya “figure” yang layak diikuti dan ditiru. Terlebih sejak saya mengenal peribahasa Arab yang seingat saya bunyinya begini: ‘Laisal fata man yaqulu kaana abi, walakinnal fata man yaqulu ha ana dza’ –bermaksud: [bukanlah [disebut] seorang pemuda yang berkata itulah bapa saya, akan tetapi dialah si pemuda yang berkata inilah saya]. Sejak itulah satu azam mengekal di palung kalbu saya: seorang ber-‘darah biru’ bukan jaminan menjadi peribadi hebat. Dan, memang, di kemudian hari saya acapkali mendapati seseorang yang disematkan memiliki ‘darah biru’ itu banyak tak sesuai dengan statusnya. Kelakuannya dan cakap-cakapnya jauh dari ke-darah biruannya itu. Bukankah banyak anak kiai, anak tok guru, anak ustaz yang tidak seperti bapanya yang kiai itu? Bukankah anak seorang raja banyak yang tidak seperti ayahnya yang raja?
Sayang, setelah saya mengenal bangku mahasiswa dan kemudian bekerja, istilah ini masih saja menghantui saya. Darah biru. Sebuah frase yang bila merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna keturunan bangsawan satu istilah yang kini begitu mudah didakwa di mulut saudara-saudara semuslim saya. Baik secara langsung atau tidak langsung, entah bercengkerama langsung atau tidak langsung, saya biasa menjumpai orang dengan begitu Bertentangan, bukan? Entahlah. Saya hanya boleh mengelus dada dan mengumam di hati: Astaghfirullah... Kerana itu, pertanyaannya kemudian: Bagaimanakah memaknai seseorang dengan label “darah biru” di namanya? Bagaimanakah mentafsir seberapa “biru”-kah darah seseorang? Hmmm... Saya jadi teringat almarhumah wanita Jepara yang namanya dicatat sebagai hari besar nasional, yang peribadi yang menjadi simbol bersejarah wanita Indonesia, yang pada setiap 21 April, segenap anak-anak sekolah mengenangnya serta menyambutnya secara rasmi. Dialah Raden Ajeng Kartini. Dalam sebuah risalahnya kepada Stella, sahabat penanya, ia pernah berkata: Bagi saya hanya ada macam keningratan: keningratan fikiran dan keningratan budi.”[Surat Kartini kepada Stella, 18 Ogos 1899]. Kata-kata Kartini itu begitu menggugah dan menyentuh batin saya. Ya, betapa keningratan (kebangsawanan), kedarah biruan itu sebenarnya ada di dalam fikiran, di dalam ‘state of mind’, cara berfikir seseorang. Betapa keningratan, kedarah biruan itu sesungguhnya ada pada budi seseorang, pada akhlak seseorang. Kerananya, semakin baik akhlak seseorang, semakin darah birulah seseorang. Atau semakin seseorang mengaku berdarah biru, maka seyogyanya semakin berbudilah ia. Perkataannya akan santun dan penuh hikmah, perbuatannya akan sarat kebajikan yang membahagiakan orang di sekelilingnya. Dialah bangsawan sejati, manusia berdarah biru sesungguhnya. Dan Islam membenarkan pendapat ini. Bukankah Allah s.w.t., dalam beberapa firmanNya, mengatakan: “Dialah yang telah menciptakan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya...” [Al-Mulk: 2].
Selanjutnya dapatkan Hidayah Ogos 2010 di pasaran...
Wednesday, August 4, 2010
Sunan Kalijaga Dan Dakwah Islam Melalui Seni Dan Budaya
MUNGKIN anda sering mendengar lagu “Gundul-Gundul Pacul” atau “lir-lir” (ada yang menduga ini karya Sunan Bonang) yang dulu sering dinyanyikan oleh anak-anak dalam suatu acara daerah di tv. lagu itu merupakan salah satu warisan berharga dari Sunan Kalijaga. Menurut Babad Tanah Jawi, Sunan kalijaga adalah anak Wilwatikta, Adipati Tuban. Nama asalnya, Raden Said, atau Raden Sahid. Menurut sejarah, Sunan Kalijaga juga disebut Lokajaya, Syeikh Malaya Raden Abdurrahman dan Pangeran Tuban. Gelaran “Kalijaga” sendiri ada beberapa tafsir. Ada yang menyatakan asalnya dari kata jaga (menjaga) dan kali (sungai) - maksudnya ‘Penjaga Sungai’. Versi ini didasarkan pada penantian Lokajaya akan kedatangan Sunan Bonang selama tiga tahun di tepi sungai. Ada juga yang menulis kata itu berasal dari nama sebuah kampung di Cirebon, tempat Sunan Kalijaga pernah berdakwah. Kelahiran Sunan Kalijaga pun menyimpan misteri. Ia dikatakan lahir pada 1430 an, dikira dari tahun pernikahan Kalijaga dengan puteri Sunan Ampel. Ketika itu Sunan Kalijaga diperkirakan berusia 20an tahun. Sunan Ampel yang diyakini lahir pada 1401, ketika mengahwinkan puterinya dengan Sunan Kalijaga, berusia 50an tahun. Sunan Kalijaga dilukiskan hidup dalam beberapa era pemerintahan, yakni masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak (1481-1546), Kesultanan Cirebon dan Banten, Kerajaan Pajang (1546-1568), dan awal pemerintahan Mataram (1580an) di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Tidak lama setelah itu, Sunan Kalijaga meninggal dunia dalam usia yang agak panjang, dikatakan sekitar usianya 150an tahun. Ia dimakamkan di kampung Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai di ziarahi orang baik dari dalam atau luar negeri. Selama hidupnya, Sunan Kalijaga dikenal dengan pendekatan dakwah budayanya. Ia sangat toleran pada seni dan budaya tempatan. Ia berpendapat bahawa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap, mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan bahawa jika Islam sudah difahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak menghairankan ajaran Sunan Kalijaga terkesan dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana atau cara dakwah. Ternyata dakwah seperti ini terbukti efektif. Sebagian besar Adipati (Ketua Daerah) di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah Adipati Pandaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas dan Panjang. Sejarah mencatat Sunan Kalijaga sebagai penggubah beberapa syair, di antaranya Dandanggula Semarangan - paduan irama atau melodi Arab dan Jawa. Peninggalan Sunan Kalijaga lainnya adalah gamelan, yang di beri nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan itu kini di simpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Sukarta, seiring dengan berpindahnya kekuasaan Islam ke Mataram. Pasangan gamelan itu kini dikenal sebagai gamelan Sekatan. Karya Sunan kalijaga yang juga menonjol adalah wayang kulit. Ahli sejarah mencatat, wayang yang digemari masyarakat sebelum kehadiran Sunan Kalijaga adalah ‘wayang beber’. Wayang jenis ini berupa kertas yang bergambar kisah pewayangan Sunan Kalijaga diyakini sebagai penggubah wayang kulit. Tiap tokoh wayang dibuat gambarnya dan diabadikan di atas kulit lembu. Bentuknya berkembang dan disempurnakan pada era kejayaan Kerajaan Demak, 1480an. Cerita dari mulut ke mulut menyebutkan bahawa Sunan Kalijaga juga mahir sebagai ‘dalang’ wayang kulit. Di wilayah Pajajaran, Sunan Kalijaga lebih dikenal sebagai Ki Dalang Sida Brangti. Bila sedang mendalang di kawasan Tegal, Sunan Kalijaga berganti nama menjadi Ki Dalang Bengkok. Ketika mendalang itulah Sunan Kalijaga menyisipkan dakwahnya. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Sunan Kalijaga mengangkat kisah-kisah karangan. Beberapa di antara yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu. Dewa Ruci di tafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir. Sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari kalimat syahadat. Bahkan kebiasaan mengadakan majlis kenduri pun jadi sarana syiarnya.
Sunan Kalijaga mengganti puji-puji dalam persembahan itu dengan doa-doa dan bacaan dari kitab suci al-Quran. Diawal syiarnya, Sunan Kalijaga selalu mengembara ke pelosok kampung-kampung. Menurut catatan Profesor Husein Jayadiningarat, Sunan Kalijaga berdakwah hingga ke Palembang, Sumatera Selatan, setelah di baiah sebagai murid Sunan Bonang. Di Palembang, ia sempat berguru pada Syeikh Sutabaris.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Ogos 2010 di pasaran...
Sunan Kalijaga mengganti puji-puji dalam persembahan itu dengan doa-doa dan bacaan dari kitab suci al-Quran. Diawal syiarnya, Sunan Kalijaga selalu mengembara ke pelosok kampung-kampung. Menurut catatan Profesor Husein Jayadiningarat, Sunan Kalijaga berdakwah hingga ke Palembang, Sumatera Selatan, setelah di baiah sebagai murid Sunan Bonang. Di Palembang, ia sempat berguru pada Syeikh Sutabaris.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Ogos 2010 di pasaran...
Yahudi-Nasrani Selewengkan Kisah Para Nabi
PARA malaikat adalah hamba dan tentera Allah. Mereka adalah makhluk Allah yang paling mulia dan paling utama. Mereka memiliki darjat masing-masing. Sementara para nabi pula adalah orang yang diperintahkan oleh Allah untuk menetapkan syarak. Mereka adalah utusan Allah kepada manusia. Mereka adalah manusia yang paling suci. Seandainya Allah tidak mengutus para nabi kepada umat manusia, Allah tetap juga akan memberikan hujah (bukti) kepada manusia atas eksistensiNya. Semuanya ini sudah menjadi keadilan Allah, kerana sebelum mengutus para nabi, Allah telah mengilhamkan “kalimatnya” kedalam akal manusia dan menunjukkan bukti akan keberadaanNya. Bahkan manusia itu sendiri adalah salah satu bukti kewujudan Allah s.w.t. Manusia termasuk salah satu kalimat Allah yang boleh dijadikan hujah akan keberadaanNya. Jika kita sebagai manusia mahu merenungkan apa yang ada pada diri kita, atau mahu berfikir tentang apa yang ada di alam semesta ini, nescaya kita akan menemukan kalimat Allah dan tanda-tanda keberadaanNya. Apabila manusia menghimpun kesucian suara hati nuraninya dan membangkitkan daya ingatan, maka mereka akan melihat kalimat-kalimat Allah di saat manusia dan keturunannya mengikrarkan janji. Allah berfirman dalam surah al-‘Araf ayat 172 yang mafhumnya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah megambil kesaksian terhadap jiwa mreka seraya berfirman: ‘Bukankah Aku ini tuhanmu? Mereka menjawab: ‘Betul (engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi.” Jadi dalam diri manusia sudah ada bukti keberadaan Allah. Namun kalau dalam diri manusia sudah ada bukti wujud Allah, mengapa Allah perlu mengutus para nabi kepada manusia? Jawabnya: Sesungguhnya para nabi adalah bentuk rahmat atau kasih sayang Allah. Allah tidak berinteraksi dengan manusia dengan keadilan saja, kerana Allah Maha Besar, namun Allah juga berinteraksi dengan hambaNya dengan rahmat. Jadi para nabi adalah rahmat. Setiap nabi yang diturunkan pasti menjadi rahmat bagi kaumnya atau bagi zamannya. Hingga ketika nabi yang terakhir datang maka dia datang sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah s.w.t. berfirman yang mafhumnya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya’: 107) Jika bukan kerana Muhammad bin Abdullah, kita tidak akan boleh mengetahui kisah para nabi sesuai dengan realiti yang benar, kerana kisah para nabi telah banyak diseleweng sebelum diutusnya Muhammad s.a.w. Orang-orang membuat kisah para nabi menjadi tidak masuk akal, yang tidak selayaknya kisah itu dilakukan oleh seorang nabi. Penyelewengan dan pemutarbelitan fakta dalam kehidupan para nabi telah mereka buat sedemikian rupa tanpa menjaga kewibawaan dan kesuciaan para nabi tersebut. Dalam kitab suci Yahudi dikisahkan bahawa seorang nabi meminum arak dan berzina dengan anak gadisnya sendiri. Ada pula seorang nabi yang dengan sengaja mengorbankan panglima perangnya untuk berperang di garis depan supaya dia dapat melakukan kecurangan dengan isteri panglima itu. Konon ada pula nabi yang menyembah berhala usia menikah dengan gadis cantik jelita penyembah berhala. Demi menuruti kepuasan nafsunya, nabi ini lebih memilih menyembah berhala daripada menyembah Allah si pencipta. Jika anda membaca lembaran kitab suci yang sudah diselewengkan ini, maka sepanjang waktu anda akan merasa bahawa anda berada di hadapan akal manusia yang terbius dan sudah tercemar. Akal-akal itu sudah disuap, sehingga mereka sengaja berbohong tentang kesucian Allah dan para nabiNya, dengan tujuan agar kita sekarang ini terkelabui. Sudah pasti, orang-orang Yahudi memiliki kepentingan tertentu yang tampak jelas dari apa yang mereka lakukan itu. Jika anda beralih dan kitab suci Yahudi menuju kitab suci Nasrani, maka anda akan menemukan kisah-kisah yang bertolak belakang (bertentangan) dengan apa yang ada dalam kitab Yahudi. Hal ini dimaksudkan sebagai bantahan atas apa yang dikisahkan oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Nasrani sangat mengagungkan nabinya, iaitu Nabi Isa a.s. Begitu mengagungkannya, sehingga salah satu dari golongan mereka berkeyakinan bahawa Isa adalah anak Tuhan. Sungguh, kemuliaan Allah sangat tinggi dan Maha Besar. Maha Suci Allah dari apa yang dianggap orang-orang Nasrani itu, mereka telah mengenyahkan keagungan para nabi dengan meremehkan nabi yang satu dan mendewa-dewakan nabi yang lain. Jika tidak ada al-Quran, tentu kita tidak akan mengetahui hakikat para nabi a.s. Hakikatnya para nabi adalah manusia yang paling baik. Mereka masih sebagai seorang manusia: pergi ke pasar, makan, hidup di dunia, dan meninggal dunia. Mereka tidak memilih dirinya sendiri untuk memikul tanggungjawab amanat risalah langit. Sebab menjadi nabi bukanlah hasil dari sebuah usaha, cita-cita, kerja keras, atau pilihan mereka sendiri, melainkan Allah telah memilih mereka.
Dan Allah memilih mereka kerana tahu bahawa mereka adalah insan-insan paling suci dan paling mulia di dunia ini, baik akal ataupun hati mereka. Terlebih setelah mereka menerima mandat dari Allah untuk menyebar risalahNya, Allah memberikan tambahan kemuliaan dan keagungan ke dalam diri mereka, sehingga mereka di sebut dengan “Rasul Allah” atau “utusan-utusan Allah”. Allah tidak mungkin keliru memilih orang untuk menjadi utusanNya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesucian khusus, juga mukjizat yang beraneka ragam. Yang dimaksud dengan kesucian para nabi adalah mereka tidak pernah melakukan dosa besar ataupun dosa kecil, baik sebelum diangkat sebagai nabi atau sesudahnya. Mereka selalu berada dalam darjat kehidupan yang sempurna, dan tidak pernah turun dari darjat itu. Jika sampai mereka meniti jalan ke darjat yang rendah dengan melakukan satu kesalahan yang tidak disengaja, maka mereka akan segera naik ke darjat yang sempurna kembali. Dengan memberikan cubaan kepada para nabiNya, sesungguhnya Allah bermaksud mengangkat mereka ke tingkatan yang lebih tinggi dari darjat kesempurnaan, darjat yang kita tidak dapat mengetahuinya dan tidak dapat mengandaikannya.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Ogos 2010 di pasaran...
Dan Allah memilih mereka kerana tahu bahawa mereka adalah insan-insan paling suci dan paling mulia di dunia ini, baik akal ataupun hati mereka. Terlebih setelah mereka menerima mandat dari Allah untuk menyebar risalahNya, Allah memberikan tambahan kemuliaan dan keagungan ke dalam diri mereka, sehingga mereka di sebut dengan “Rasul Allah” atau “utusan-utusan Allah”. Allah tidak mungkin keliru memilih orang untuk menjadi utusanNya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesucian khusus, juga mukjizat yang beraneka ragam. Yang dimaksud dengan kesucian para nabi adalah mereka tidak pernah melakukan dosa besar ataupun dosa kecil, baik sebelum diangkat sebagai nabi atau sesudahnya. Mereka selalu berada dalam darjat kehidupan yang sempurna, dan tidak pernah turun dari darjat itu. Jika sampai mereka meniti jalan ke darjat yang rendah dengan melakukan satu kesalahan yang tidak disengaja, maka mereka akan segera naik ke darjat yang sempurna kembali. Dengan memberikan cubaan kepada para nabiNya, sesungguhnya Allah bermaksud mengangkat mereka ke tingkatan yang lebih tinggi dari darjat kesempurnaan, darjat yang kita tidak dapat mengetahuinya dan tidak dapat mengandaikannya.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Ogos 2010 di pasaran...
Sunday, July 11, 2010
Variasari Keluaran Julai 2010
CoverVs-BkJulai'102.jpg)
Setiap keluaran yang kami edarkan permintaan makin bertambah. Kami ucapkan ribuan terimakasih kepada pembaca yang sudi menatap majalah ini. Tindakbalas yang cukup baik dari para pembaca amat kami hargai.
Kami sajikan anda bahan bacaan 100% misteri. Dijamin anda puas membaca kisah-kisah yang dipaparkan.
Dapatkan segera majalah Variasari keluaran Julai 2010 sebelum kehabisan.
Amaran keras: Ibu-ibu mengandung tidak di galakkan membacanya.
Harga cuma RM3.00 saja
Siri Bercakap Dengan Jin
Hidayah Julai 2010
CovHidJulai2010.jpg)
Hidayah keluaran Julai 2010 sudah ada di pasaran. Dapatkan segera sebelum kehabisan. Pastikan anda memilikinya...
Beli 2 naskhah...satu untuk anda satu lagi berikan pada jiran...!
Kami himpunkan puluhan kisah-kisah menarik khusus buat tatapan anda. Isi kandungannya tambah padat, cukup menawan sesuai dibaca semua golongan...Segera ke kedai-kedai buku berhampiran untuk mendapatkannya!
Senaskhah cuma RM3.90 sahaja
Salam Kami Julai 2010
ASSALAMUALAIKUM WR.WBT.SEGALA puji dan syukur kita ke hadapan Allah s.w.t. serta salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Kami mengalu-alukan anda untuk terus menyelak setiap halaman keluaran kali ini dan menghayati paparan kisah iktibarnya dan pelbagai rencana yang ada manfaatnya. Memanglah sesuatu yang aneh apabila menyaksikan jenazah yang telah disemadikan dalam kubur menyemburkan api melalui perut mayat. Mungkin itu hanya sedikit balasan dosa kepada si mati yang ditunjukkan di dunia ini. Pembalasan yang akan diterima di alam barzakh dan di akhirat kelak entah berganda lebih dari itu. Sementara itu kita selama ini cuma mendengar saja bagaimana sukarnya seseorang menghadapi sakaratul maut hinggakan ikhtiar dilakukan dengan di buka atap rumah orang berkenaan untuk memudahkan rohnya dikeluarkan dari jasad. Apa sebabnya berlaku sedemikian? Bacalah kisah luar biasa itu. Dalam keluaran ini juga, Hidayah memaparkan rangkaian doa buat pasangan suami isteri yang bakal menyambut cahaya mata agar dikurniakan anak yang salih dan salihah. Bacalah rencana bertajuk ‘Mengharap Permata hati yang salih’. Rasanya anda tidak perlu menjadi ‘Wali Allah’ untuk mendapatkan zuriat semurni itu. Memadai keazaman dan tekad untuk dikurniakan keturunan yang salih dan salihah dengan pembentukan peribadi mulia diri anda sendiri. Begitu juga bagi anda dalam menghadapi kerjaya sehari-hari, wajibkanlah membaca rencana bertajuk: “Memilih jalan yang lurus”. Hayatilah mesejnya, rasakanlah kemuliaan hati seorang pekerja ‘pencuci bilik air/tandas’ yang mendapat keberkahan hasil ketulusan dan keikhlasannya bekerja. Dan banyaklah lagi rencana-rencana lain yang perlu anda tatapi dan menikmatinya melalui Hidayah keluaran ini. Untuk kesekian kalinya kami paparkan madah Abu Bakar Alwaasithi yang berkata: “Keuntungan yang besar itu dalam tiga: Hidup, mati dan kiamat. Adapun untuk keuntungan hidup itu bila digunakan dalam taat kepada Allah Taala. Dan keuntungan mati bila ia mati dalam mengucap kalimah “Laailaha illallah”, dan keuntungan hari kiamat pula bila bangkit dari kubur disambut dengan berita bahawa syurga tersedia untuknya.” Allah hu akbar! Terima kasih kepada anda kerana berterusan menyokong Hidayah dan menjadi pembaca setianya. Kita berjumpa lagi dalam keluaran akan datang. Wassalam!
Pengarang,
Shahimisaifulislam@yahoo.com.my
Surat Pembaca
SIMPATI NASIB ORANG MELAYU
Saudara Pengarang,
Saya adalah peminat ruangan ‘Al-Kisah – Pak Syeikh’. Dalam keluaran bulan Jun 2010 lalu beliau ada menyentuh mengenai ‘NASIB ORANG MELAYU’ dimana beliau ada menyentuh nasib peniaga-peniaga kecil seperti penjual nasi lemak, penjual roti canai dan sebagainya yang nasib mereka tidak terbela walaupun telah berniaga lebih 10 tahun. Katanya, mereka bukan tidak mahu maju, tapi apabila nak minta tolong buat pinjaman ada saja halangannya. Yang menjual di bawah pokok 20 tahun lalu, hingga sekarang masih bercokol di situ.
Yang menumpang di kaki lima kedai bukan orang Islam, di situlah dia sampai ke usia tuanya. Saya sokong pandangan Pak Syeikh yang begitu pedas dan sinis terhadap ‘pemimpin Melayu’ yang cakap tak serupa bikin. Telah berpuluh tahun memerintah, tapi ‘orang Melayu’ tak tertolong juga. Yang senang kroni dan anak-anak buahnya saja. Saya menyeru Pak Syeikh jangan jemu-jemu atau rasa muak untuk terus menulis kepincangan-kepincangan masyarakat seperti ini. Anda mempunyai kuasa menulis, gunakan kekuasaan anda untuk menyelak dan membongkar pekong-pekong yang ada dalam masyarakat kita demi untuk kebaikan semua.
Semoga ruangan ‘Al-Kisah – Pak Syeikh’ akan terus menyengat di masa-masa akan datang.
Peniaga Kecil,
Kamunting, Taiping, Perak.
• Betul kata anda itu. Kesilapan mesti ditegur, bukan didiamkan saja. Pemimpin yang membetulkan kesilapannya apabila ditegur adalah pemimpin yang berjiwa besar dan beroleh pahala di akhirat kelak. – Pengarang.
JANGAN ANGGAP REMEH PERKARA AKIDAH
Saudara Pengarang,
Saya terharu apabila membaca rencana Iktibar 1 bertajuk ‘Nasib Jenazah Murtad Kain Kafannya Terbakar’ yang tersiar dalam Hidayah keluaran Jun 2010 lalu. Apa yang menyentuh hati kecil saya, ialah betapa rapuhnya iman seorang pemuda yang mudah terpesong akidahnya semata-mata kerana terpikat dengan seorang wanita bukan Islam. Tanggapannya terhadap murtad begitu mudah sekali, seolah-olah ianya bukan perkara besar dalam hidupnya dan boleh dipermain-mainkan. Dia mengakhiri hidupnya dengan kematian tragis. Malah lebih menginsafkan betapa kain kafannya turut mengalami kebakaran tanpa sebab munasabah. Ini memberi petanda tidak baik buat si mati. Bagi kita yang masih hidup, ini sudah sewajarnya menjadi iktibar bahawa jangan sekali-kali meremehkan persoalan akidah. Bagi anak-anak muda hendaklah kuatkan hati dan semangat untuk mengikuti kuliah-kuliah agama yang ada di masjid-masjid dan surau-surau agar ilmu anda terhadap agama akan bertambah. Ilmu agama tidak akan didapati di tepi-tepi jalan, atau dalam kelas-kelas muzik, atau di padang bola dan sebagainya. Biarlah anda bersusah payah belajar agama diusia muda agar tidak menyesal apabila usia tua kelak. Semoga anda termasuk dalam golongan orang-orang yang salih, InsyaAllah!
Haji Mahmud Bakar,
Batu Kurau, Perak.
• Semoga nasihat anda itu dapat dijadikan renungan buat anak-anak muda yang membaca Hidayah ini. Semoga. – Pengarang.
NASIB MENANTU DERHAKA
Saudara pengarang,
Membaca Hidayah bukan saja menghiburkan, malah memberi ilmu pengetahuan. Apa yang paling saya gemari ialah membaca ruangan-ruangan iktibarnya setiap keluaran. Kisah-kisah dalam iktibar mampu memaparkan pelbagai karenah kehidupan dalam hidup dan matinya manusia ini. Dalam iktibar keluaran lalu (Jun 2010) ada dipaparkan nasib malang seorang menantu yang menderhakai ibu mentuanya. Tajuk iktibar tersebut ‘Darah Keluar Dari Dubur Sampai Ajal Menjemput’. Si menantu itu tergamak ‘menghalau’ dan ‘mencemoh’ ibu mentuanya yang sekadar memetik cili di kebun anaknya itupun selepas mendapat keizinan anaknya sendiri.
Satu lagi kelakuannya yang menjijikkan ialah tergamaknya dia mencampurkan darah haidnya dalam minuman untuk suaminya agar suaminya tidak mengahwini wanita lain kerana dia sendiri didapati tidak boleh mengandung dan memberi zuriat kepada suaminya. Yang lebih tragis, walaupun menghadapi penderitaan hingga membawa maut, dia tetap tidak mahu memohon keampunan terhadap ibu mentuanya. Ini menunjukkan betapa sombong dan egonya wanita ini yang tidak mahu insaf salah silapnya sendiri. Mungkin di luar sana, ramai kalangan wanita-wanita yang berperangai seperti menantu derhaka ini. Namun mereka mungkin tidak menerima pembalasan segera di dunia ini. Tapi jangan lupa. Walaupun anda terlepas dari hukuman di dunia, tapi hukuman di kubur, di akhirat tidak akan terlepas. Oleh itu yang bersalah haruslah insaf dan bertaubat sebelum terlambat. Jangan jadi seperti Suminah yang membawa penderitaannya hingga ke liang kubur.
Zaharah Haji Yahya,
Kuala Ketil, Kedah.
Saudara Pengarang,
Saya adalah peminat ruangan ‘Al-Kisah – Pak Syeikh’. Dalam keluaran bulan Jun 2010 lalu beliau ada menyentuh mengenai ‘NASIB ORANG MELAYU’ dimana beliau ada menyentuh nasib peniaga-peniaga kecil seperti penjual nasi lemak, penjual roti canai dan sebagainya yang nasib mereka tidak terbela walaupun telah berniaga lebih 10 tahun. Katanya, mereka bukan tidak mahu maju, tapi apabila nak minta tolong buat pinjaman ada saja halangannya. Yang menjual di bawah pokok 20 tahun lalu, hingga sekarang masih bercokol di situ.
Yang menumpang di kaki lima kedai bukan orang Islam, di situlah dia sampai ke usia tuanya. Saya sokong pandangan Pak Syeikh yang begitu pedas dan sinis terhadap ‘pemimpin Melayu’ yang cakap tak serupa bikin. Telah berpuluh tahun memerintah, tapi ‘orang Melayu’ tak tertolong juga. Yang senang kroni dan anak-anak buahnya saja. Saya menyeru Pak Syeikh jangan jemu-jemu atau rasa muak untuk terus menulis kepincangan-kepincangan masyarakat seperti ini. Anda mempunyai kuasa menulis, gunakan kekuasaan anda untuk menyelak dan membongkar pekong-pekong yang ada dalam masyarakat kita demi untuk kebaikan semua.
Semoga ruangan ‘Al-Kisah – Pak Syeikh’ akan terus menyengat di masa-masa akan datang.
Peniaga Kecil,
Kamunting, Taiping, Perak.
• Betul kata anda itu. Kesilapan mesti ditegur, bukan didiamkan saja. Pemimpin yang membetulkan kesilapannya apabila ditegur adalah pemimpin yang berjiwa besar dan beroleh pahala di akhirat kelak. – Pengarang.
JANGAN ANGGAP REMEH PERKARA AKIDAH
Saudara Pengarang,
Saya terharu apabila membaca rencana Iktibar 1 bertajuk ‘Nasib Jenazah Murtad Kain Kafannya Terbakar’ yang tersiar dalam Hidayah keluaran Jun 2010 lalu. Apa yang menyentuh hati kecil saya, ialah betapa rapuhnya iman seorang pemuda yang mudah terpesong akidahnya semata-mata kerana terpikat dengan seorang wanita bukan Islam. Tanggapannya terhadap murtad begitu mudah sekali, seolah-olah ianya bukan perkara besar dalam hidupnya dan boleh dipermain-mainkan. Dia mengakhiri hidupnya dengan kematian tragis. Malah lebih menginsafkan betapa kain kafannya turut mengalami kebakaran tanpa sebab munasabah. Ini memberi petanda tidak baik buat si mati. Bagi kita yang masih hidup, ini sudah sewajarnya menjadi iktibar bahawa jangan sekali-kali meremehkan persoalan akidah. Bagi anak-anak muda hendaklah kuatkan hati dan semangat untuk mengikuti kuliah-kuliah agama yang ada di masjid-masjid dan surau-surau agar ilmu anda terhadap agama akan bertambah. Ilmu agama tidak akan didapati di tepi-tepi jalan, atau dalam kelas-kelas muzik, atau di padang bola dan sebagainya. Biarlah anda bersusah payah belajar agama diusia muda agar tidak menyesal apabila usia tua kelak. Semoga anda termasuk dalam golongan orang-orang yang salih, InsyaAllah!
Haji Mahmud Bakar,
Batu Kurau, Perak.
• Semoga nasihat anda itu dapat dijadikan renungan buat anak-anak muda yang membaca Hidayah ini. Semoga. – Pengarang.
NASIB MENANTU DERHAKA
Saudara pengarang,
Membaca Hidayah bukan saja menghiburkan, malah memberi ilmu pengetahuan. Apa yang paling saya gemari ialah membaca ruangan-ruangan iktibarnya setiap keluaran. Kisah-kisah dalam iktibar mampu memaparkan pelbagai karenah kehidupan dalam hidup dan matinya manusia ini. Dalam iktibar keluaran lalu (Jun 2010) ada dipaparkan nasib malang seorang menantu yang menderhakai ibu mentuanya. Tajuk iktibar tersebut ‘Darah Keluar Dari Dubur Sampai Ajal Menjemput’. Si menantu itu tergamak ‘menghalau’ dan ‘mencemoh’ ibu mentuanya yang sekadar memetik cili di kebun anaknya itupun selepas mendapat keizinan anaknya sendiri.
Satu lagi kelakuannya yang menjijikkan ialah tergamaknya dia mencampurkan darah haidnya dalam minuman untuk suaminya agar suaminya tidak mengahwini wanita lain kerana dia sendiri didapati tidak boleh mengandung dan memberi zuriat kepada suaminya. Yang lebih tragis, walaupun menghadapi penderitaan hingga membawa maut, dia tetap tidak mahu memohon keampunan terhadap ibu mentuanya. Ini menunjukkan betapa sombong dan egonya wanita ini yang tidak mahu insaf salah silapnya sendiri. Mungkin di luar sana, ramai kalangan wanita-wanita yang berperangai seperti menantu derhaka ini. Namun mereka mungkin tidak menerima pembalasan segera di dunia ini. Tapi jangan lupa. Walaupun anda terlepas dari hukuman di dunia, tapi hukuman di kubur, di akhirat tidak akan terlepas. Oleh itu yang bersalah haruslah insaf dan bertaubat sebelum terlambat. Jangan jadi seperti Suminah yang membawa penderitaannya hingga ke liang kubur.
Zaharah Haji Yahya,
Kuala Ketil, Kedah.
Perut Jenazah Menyemburkan Api
Beberapa orang yang mengiringi jenazah itu melangkah perlahan meninggalkan tanah kubur selepas pengurusan pengkebumian jenazah itu selesai. Mereka semacam mahu memastikan hanya tapak kakinya yang tertinggal di sana. Namun, Satrio yang baru saja melangkahkan kakinya dari kawasan tanah kubur itu mendadak teringat sesuatu. Dia meraba-raba kocek baju dan kocek seluarnya berkali-kali. Ternyata pemetik api bersalut air emas koleksi kesayangannya tertinggal di dalam lubang kubur Jariah. “Alamak! Pemetik api aku tertinggal dalam kubur!” bisik Satrio kepada kawannya Mabrur. “Hah..!!” “Jadi bagaimana?” tanya Kardi. “Harus diambil!?” mencelah Solihin bertanya untuk kepastian. “Jadi kita kena gali lagi tanahnya? Tak usahlah! Cuma pemetik api saja.” Tutur Kardi agak keengganan. “Tak boleh. Harus diambil. Itu pemetik api kesayanganku. Banyak kenangan dan susah aku mencarinya.” Balas Satrio, semacam mendesak. Keempat pemuda itu dan beberapa orang lainnya memutuskan menggali semula tanah kuburan Jariah. Satrio agak cemas. Ayunan demi ayunan cangkul membongkar semula tanah kuburan Jariah. Prosesnya mudah saja. Sementara beberapa orang lainnya menyaksikan dari pinggir lubang kubur. Peluh membasahi tubuh kedua penggali. Dan akhirnya, tanah yang tadinya telah menutup jasad Jariah telah berhasil dibongkarkan. Satrio cuba meraba-raba kemungkinan jatuhnya pemetik api dalam kubur itu. Akan tetapi, tiba-tiba, ketika tangannya hendak memegang jasad jenazah, semburan api menjulur dari arah perut jenazah. Lidah api itu seakan mahu menjilat dua orang penggali kubur itu. “Ha...! Api...! Api...!” jerit Satrio ketakutan. Spontan saja, mereka terkejut dan langsung melompat keluar dari liang lahad. Sementara jenazah yang menyemburkan api itu digeletakkan begitu saja di dalamnya. Kedua penggali itu lari menjauhkan diri dari kuburan. Keduanya sungguh tak menyangka mendapati pemandangan yang aneh ini.
Rasanya semacam tak masuk akal, api keluar dari jenazah tersebut dan hampir mengenai tubuh mereka.
“MasyaAllah...!” ujar Kardi menyaksikan kejadian aneh itu dari pinggir liang lahad. “Mari lekas tutup lubang kubur ini!” perintah Solihin kepada teman-temannya seraya bertindak mengaut semula tanah untuk menutup lubang kubur yang masih mengeluarkan semburan api bersumber dari perut jenazah tersebut. “Cepat! Cepat!”
Mereka bekerja pantas dan mengubur kembali liang lahad itu secepat mungkin. Rasanya kaki-kaki mereka sudah tak tahan berlama-lama di tempat itu dan mahu segera meninggalkan tempat tersebut. Jika mereka tak punya tanggungjawab mengubur lagi, tempat aneh tadi tentunya akan segera ditinggalkan begitu saja. Namun kerana berkewajipan menguburnya kembali, mereka memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Sepanjang perjalanan pulang, rasa takut dan panik masih menyergap mereka. Peristiwa singkat itu terasa mengerikan. Bayang-bayang semburan api dari arah jenazah itu masih menghantui benak Satrio dan kawan-kawannya.
Ceti Yang Menjadi Hamba Nafsu Syahwat
Jariah memang menjalani berbagai usaha. Demi wang apa saja dilakukannya. Hanya, dari sekian banyak pekerjaan yang diusahanya, yang bertahan adalah usaha mengkreditkan barang. Biasanya barang-barang yang dikreditkan berupa barangan elektronik (seperti tv, peti ais), alat perabotan dapur dan sebagainya. Atau dia membeli barangan orang yang memerlukan wang segera dengan harga murah dan nantinya dijual kembali dengan kredit. Bila tiba waktunya orang yang belum boleh membayar, maka setiap kali keterlambatan itu akan dikenakan bunga yang tidak kecil. Katanya, itulah risiko bagi orang yang tidak tepat membayar cicilannya. Tak jarang dari bunga kreditnya itu boleh mencapai lebih dari 100% dari harga pokok barangnya. Dia telah menjadi seorang ceti atau istilah modennya ‘ah long’ (orang yang meminjamkan wang dengan mengenakan bunga) Hairannya, ada saja orang yang datang kepadanya untuk berbagai keperluan. Ada yang berniat kreditkan barang, tidak sedikit pula yang berhutang kepadanya. Jariah pun tidak menolak untuk mengajukan syarat yang ketat, seperti harus menyanggupi pembayarannya tepat waktu beserta bunganya. Jika terlewat sehari saja, maka ia akan menetapkan bunga tambahan kerana keterlambatan tersebut. Semakin lambat pembayarannya, maka semakin besar pula bunga yang harus dibayar oleh si penghutang. Jika ditanya, kenapa memberlakukan bunga yang demikian besar, wanita berwajah cantik itu berhelah kerana wang tadi seharusnya untuk pusingan modal usaha lain yang boleh menghasilkan keuntungan. Banyak orang sebenarnya tahu implikasi meminjam atau mengkreditkan kepada perempuan itu. Namun, kerana terpaksa untuk keperluan mendesak, mereka tetap mendatangi Jariah sebagai jalan keluar. Pasalnya jika meminjam wang di bank, mereka tidak mahu dipeningkan dengan sejumlah syarat itu dan syarat ini. Sementara melalui Jariah sangat mudah dan tak berbelit-belit.
Pagi-pagi sekali, Jariah biasanya sudah berkemas-kemas. Buku catatan hutang dan pen selalu dibawanya. Tak lupa, beg tangan selalu menemaninya. Selesai menghadapi sarapan, segelas teh tarik, ia pun memulai aktiviti hariannya. Lagipun ia sudah tak bersuami lagi dan hanya menanggung seorang anak yang sudah beranjak remaja. Dari pintu ke pintu, dari satu tempat ke tempat lain, Jariah tekun menemui para pelanggannya. Bila tidak menagih, ia pasti menawarkan barang-barang kreditannya. Tutur katanya yang lincah dan parasnya yang cantik menjadi kelebihan tersendiri hingga banyak orang seakan terpesona oleh pujuk rayunya. Kerana itu pula tak sedikit orang yang tertarik kepadanya. Ada yang ingin menjadikan dirinya sebagai isteri (jadi isteri kedua pun tak apa...). Dan ada pula yang cuma suka-suka saja mahu menggodanya. Sengaja menggatal. Sememangnya Jariah tak berganjak, tetapi kadang-kadang ia juga merasa terseksa dan kesepian jika sedang sendirian di rumah setelah lama berpisah dari suaminya. Tapi dia juga tahu memilih. Bukan sembarang lelaki mahu dicekupnya. Dia bebas untuk memilih “pak we” mengikut seleranya. Perasaan ini rupanya dipelihara oleh Jariah. Dari segi kewangan, keperluan sehari-harinya mungkin telah terpenuhi, akan tetapi batinnya terasa kering kontang apalagi jika sedang sendirian di rumah. Hatinya gundah gulana.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Rasanya semacam tak masuk akal, api keluar dari jenazah tersebut dan hampir mengenai tubuh mereka.
“MasyaAllah...!” ujar Kardi menyaksikan kejadian aneh itu dari pinggir liang lahad. “Mari lekas tutup lubang kubur ini!” perintah Solihin kepada teman-temannya seraya bertindak mengaut semula tanah untuk menutup lubang kubur yang masih mengeluarkan semburan api bersumber dari perut jenazah tersebut. “Cepat! Cepat!”
Mereka bekerja pantas dan mengubur kembali liang lahad itu secepat mungkin. Rasanya kaki-kaki mereka sudah tak tahan berlama-lama di tempat itu dan mahu segera meninggalkan tempat tersebut. Jika mereka tak punya tanggungjawab mengubur lagi, tempat aneh tadi tentunya akan segera ditinggalkan begitu saja. Namun kerana berkewajipan menguburnya kembali, mereka memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Sepanjang perjalanan pulang, rasa takut dan panik masih menyergap mereka. Peristiwa singkat itu terasa mengerikan. Bayang-bayang semburan api dari arah jenazah itu masih menghantui benak Satrio dan kawan-kawannya.
Ceti Yang Menjadi Hamba Nafsu Syahwat
Jariah memang menjalani berbagai usaha. Demi wang apa saja dilakukannya. Hanya, dari sekian banyak pekerjaan yang diusahanya, yang bertahan adalah usaha mengkreditkan barang. Biasanya barang-barang yang dikreditkan berupa barangan elektronik (seperti tv, peti ais), alat perabotan dapur dan sebagainya. Atau dia membeli barangan orang yang memerlukan wang segera dengan harga murah dan nantinya dijual kembali dengan kredit. Bila tiba waktunya orang yang belum boleh membayar, maka setiap kali keterlambatan itu akan dikenakan bunga yang tidak kecil. Katanya, itulah risiko bagi orang yang tidak tepat membayar cicilannya. Tak jarang dari bunga kreditnya itu boleh mencapai lebih dari 100% dari harga pokok barangnya. Dia telah menjadi seorang ceti atau istilah modennya ‘ah long’ (orang yang meminjamkan wang dengan mengenakan bunga) Hairannya, ada saja orang yang datang kepadanya untuk berbagai keperluan. Ada yang berniat kreditkan barang, tidak sedikit pula yang berhutang kepadanya. Jariah pun tidak menolak untuk mengajukan syarat yang ketat, seperti harus menyanggupi pembayarannya tepat waktu beserta bunganya. Jika terlewat sehari saja, maka ia akan menetapkan bunga tambahan kerana keterlambatan tersebut. Semakin lambat pembayarannya, maka semakin besar pula bunga yang harus dibayar oleh si penghutang. Jika ditanya, kenapa memberlakukan bunga yang demikian besar, wanita berwajah cantik itu berhelah kerana wang tadi seharusnya untuk pusingan modal usaha lain yang boleh menghasilkan keuntungan. Banyak orang sebenarnya tahu implikasi meminjam atau mengkreditkan kepada perempuan itu. Namun, kerana terpaksa untuk keperluan mendesak, mereka tetap mendatangi Jariah sebagai jalan keluar. Pasalnya jika meminjam wang di bank, mereka tidak mahu dipeningkan dengan sejumlah syarat itu dan syarat ini. Sementara melalui Jariah sangat mudah dan tak berbelit-belit.
Pagi-pagi sekali, Jariah biasanya sudah berkemas-kemas. Buku catatan hutang dan pen selalu dibawanya. Tak lupa, beg tangan selalu menemaninya. Selesai menghadapi sarapan, segelas teh tarik, ia pun memulai aktiviti hariannya. Lagipun ia sudah tak bersuami lagi dan hanya menanggung seorang anak yang sudah beranjak remaja. Dari pintu ke pintu, dari satu tempat ke tempat lain, Jariah tekun menemui para pelanggannya. Bila tidak menagih, ia pasti menawarkan barang-barang kreditannya. Tutur katanya yang lincah dan parasnya yang cantik menjadi kelebihan tersendiri hingga banyak orang seakan terpesona oleh pujuk rayunya. Kerana itu pula tak sedikit orang yang tertarik kepadanya. Ada yang ingin menjadikan dirinya sebagai isteri (jadi isteri kedua pun tak apa...). Dan ada pula yang cuma suka-suka saja mahu menggodanya. Sengaja menggatal. Sememangnya Jariah tak berganjak, tetapi kadang-kadang ia juga merasa terseksa dan kesepian jika sedang sendirian di rumah setelah lama berpisah dari suaminya. Tapi dia juga tahu memilih. Bukan sembarang lelaki mahu dicekupnya. Dia bebas untuk memilih “pak we” mengikut seleranya. Perasaan ini rupanya dipelihara oleh Jariah. Dari segi kewangan, keperluan sehari-harinya mungkin telah terpenuhi, akan tetapi batinnya terasa kering kontang apalagi jika sedang sendirian di rumah. Hatinya gundah gulana.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Mengharap Permata Hati Yang Salih
MENATAP bayi adalah mengharapkan masa depannya. Makhluk comel inilah lambang optimis dunia: bahawa Tuhan sentiasa menaburkan rahmatnya atas kehidupan umat manusia di muka bumi - yang acapkali merosak diri mereka sendiri dan mengkhianati cintaNya; bahawa dunia masih boleh dijadikan tempat untuk manusia menabung harapannya, pencerahan, dan segugus kebaikan. Maka tidakkah hati menjadi perih dan pedih apabila melihat seorang ibu yang dengan sengaja membunuh anak kandungnya? Sedemikian jelekkah budi pekerti manusia.
Sebuah media, pernah menulis sebagai berikut: Tati (25 tahun), seorang amah berasal dari Banten, menghabisi nyawa bayi yang dilahirkannya dengan memasukkan si bayi ke dalam kotak. Dia mengaku tidak tahu apakah bayi yang dilahirkannya itu masih hidup atau sudah mati. Sebabnya, begitu keluar dari rahimnya, bayi malang itu lansung dibungkus dan dimasukkan ke dalam kotak untuk disimpan di dalam gudang. (lihat www.liputan6.com/29/01/06). Sementara di lain media diberitakan begini: Seorang ibu di daerah Surabaya menekup mulut dan hidung bayinya yang baru lahir dengan sehelai kain begitu sadisnya. (lihat www.indosiar.com/27/06/07) Bukan hanya seorang ibu yang sadis, si ayah pun terkadang lebih kejam. Bapa yang seharusnya menjadi contoh teladan seringkali menjadi ‘syaitan’ untuk anaknya. Perkaranya beragam: mulai dari ayah memperkosa anak dara suntinya, ayah menjual anak perempuannya, hingga ayah memaksa anak perempuannya menjadi pelacur di usia belia. Namun, untuk lebih menyakinkan, mari saya petikkan satu laporan di sebuah media: Muslim [43 tahun], seorang guru mengaji di daerah Batam, telah menggauli anak perempuannya sejak kanak-kanak itu bersekolah Tingkatan satu. Hasil, ketika anak perempuannya hamil enam bulan, peristiwa biadab itu terbongkar. Para tetangga curiga, anak perempuan berterus terang berkisah, dan si ayah tak mampu lagi berselindung. Muslim pun menerima hukuman sewajarnya. Demikianlah, anak-anak, lilin-lilin kehidupan itu, tiba-tiba redup cahayanya sebelum sempat menjadi obor masa depan. Yang memadamkan itu bukan alam, bukan juga segerombolan penjenayah, melainkan keluarga sendiri atas motif dan dalih yang bermacam-macam; kemiskinan, gejolak berahi, dan lain-lainnya. Ironisnya, tidak hanya masa bawah lima tahun si anak yang direnggut, namun juga peringkat remajanya. Kaum bapa seringkali menorehkan kekerasan fizik dan psikologi ke dalam memori anak atas nama bahawa; ‘kamilah, orang tua yang lebih berpengalaman, yang lebih mengerti persoalan, yang lebih dulu hidup dan makan asam garam kehidupan.’ Tidak hairan, sejumlah kisah muda mudi yang terjerat dengan dadah, yang bergelumang hidup di dunia malam, yang memilih lingkungan durjana acap kali kita dengar. Melihat anak adalah menggarami mimpi-mimpi indah di suatu zaman, di masa depan kelak. Maka membunuh, memperkosa, menyakiti dan melukainya bererti memusnahkan mimpi-mimpi itu, memusnahkan harapan dan mengoyak masa depan itu. Yang paling merugi, tentu saja, bukan hanya si anak, tapi juga si orang tua itu sendiri. Bukankah tak sedikit kita dengar cerita anak yang mulanya dianggap penghambat ekonomi keluarga, kelak membawa berkah tiada tara bagi keluargnya? Tak jarang pula kita dengar khabar tentang anak yang diduga membawa musibah justeru menjadi anugerah. Kerana itu, untuk pasangan suami isteri yang memiliki anak-anak kecil dan kemudian melempiaskan emosinya kepada si anak, haruslah berhati-hati. Ia boleh menjadi ‘bom’ untuk anda. Belajarlah memahami dan mengerti dunia anak dengan pola pemikiran dan perasaan si anak, bukan sebaliknya. Janganlah menempatkan cakrawala dan dunia dewasa anda di benak mereka yang masih muda dan berbeda. Mereka punya horizon tersendiri, bahasa benak sendiri dan daya khayalan sendiri yang anda, sebagai orang tua, bertugas sebagai sahabat sebenarnya untuk memperkaya dan mengembangkannya. Pada titik ini, sungguh tepat bila Kahlil Gibran, penyair tersohor dari Lebanon berpuisi: “Anakmu bukanlah milikmu. Mereka putera-puteri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri...” Anak menjadi orang hebat atau jahat itu berawal dari ibu bapa. Ia menjadi impian atau kutukan berawal dari keluarga. Bahkan, sejak di dalam kandungan atau berupa janin, bakal anak ‘anugerah’ atau anak ‘musibah’, anak salih atau tidak salih itu boleh ditilik dari cara ibu bapa mendidiknya. Dapat dilihat dari model si ibu atau si bapa yang mengasuhnya, yang memperlakukannya. Sebagi contoh, saya sendiri pernah menemukan kes seorang ibu bernama Siti [35 tahun], peniaga nasi dimana saya sering berlanggan, bersama ketiga anak perempuannya yang masih kecil-kecil begitu larut dan asyik menyaksikan drama yang tidak mendidik yang ditayangkan sebuah tv swasta. Saya kira, ibu Siti tidak sendiri. Banyak ibu-ibu lainnya di negeri ini yang memang melakukan ‘ritual’ seperti itu. Lalu, apakah laku dan model asuhan ibu-ibu demikian yang mampu melahirkan putera puteri zaman yang salih dan salihah? Seribu doa yang dipanjatkan orang tua - agar anak-anaknya salih dan berjaya - itu akan berpengaruh bila model ‘ritual’ menonton drama bersama di atas menjadi amalan bersama keluarga. Maka itulah, doa di atas atau barangkali doa serupa itu dipohonkan kepada Allah, sebagai ibu bapa, terlebih dulu hendaklah menilik diri sendiri: apakah sudah tepat cara anda memperlakukan si anak sejak ia masih bersemayam di dalam kandungan? Riwayat doa di atas sendiri hakikatnya mengajarkan hal ehwal demikian. Inilah doa yang sentiasa dipanjatkan isteri ‘Imran demi mengharapkan anak yang salih, anak yang bertakwa. Ia bernazar kepada Allah dengan hati yang teguh dan niat yang penuh untuk memberi pendidikan terbaik dan asuhan terbagus bila kelak mendapatkan keturunan. Ia bahkan berjanji akan mendidiknya waktunya untuk beribadah demi si anak yang dikandungnya.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Sebuah media, pernah menulis sebagai berikut: Tati (25 tahun), seorang amah berasal dari Banten, menghabisi nyawa bayi yang dilahirkannya dengan memasukkan si bayi ke dalam kotak. Dia mengaku tidak tahu apakah bayi yang dilahirkannya itu masih hidup atau sudah mati. Sebabnya, begitu keluar dari rahimnya, bayi malang itu lansung dibungkus dan dimasukkan ke dalam kotak untuk disimpan di dalam gudang. (lihat www.liputan6.com/29/01/06). Sementara di lain media diberitakan begini: Seorang ibu di daerah Surabaya menekup mulut dan hidung bayinya yang baru lahir dengan sehelai kain begitu sadisnya. (lihat www.indosiar.com/27/06/07) Bukan hanya seorang ibu yang sadis, si ayah pun terkadang lebih kejam. Bapa yang seharusnya menjadi contoh teladan seringkali menjadi ‘syaitan’ untuk anaknya. Perkaranya beragam: mulai dari ayah memperkosa anak dara suntinya, ayah menjual anak perempuannya, hingga ayah memaksa anak perempuannya menjadi pelacur di usia belia. Namun, untuk lebih menyakinkan, mari saya petikkan satu laporan di sebuah media: Muslim [43 tahun], seorang guru mengaji di daerah Batam, telah menggauli anak perempuannya sejak kanak-kanak itu bersekolah Tingkatan satu. Hasil, ketika anak perempuannya hamil enam bulan, peristiwa biadab itu terbongkar. Para tetangga curiga, anak perempuan berterus terang berkisah, dan si ayah tak mampu lagi berselindung. Muslim pun menerima hukuman sewajarnya. Demikianlah, anak-anak, lilin-lilin kehidupan itu, tiba-tiba redup cahayanya sebelum sempat menjadi obor masa depan. Yang memadamkan itu bukan alam, bukan juga segerombolan penjenayah, melainkan keluarga sendiri atas motif dan dalih yang bermacam-macam; kemiskinan, gejolak berahi, dan lain-lainnya. Ironisnya, tidak hanya masa bawah lima tahun si anak yang direnggut, namun juga peringkat remajanya. Kaum bapa seringkali menorehkan kekerasan fizik dan psikologi ke dalam memori anak atas nama bahawa; ‘kamilah, orang tua yang lebih berpengalaman, yang lebih mengerti persoalan, yang lebih dulu hidup dan makan asam garam kehidupan.’ Tidak hairan, sejumlah kisah muda mudi yang terjerat dengan dadah, yang bergelumang hidup di dunia malam, yang memilih lingkungan durjana acap kali kita dengar. Melihat anak adalah menggarami mimpi-mimpi indah di suatu zaman, di masa depan kelak. Maka membunuh, memperkosa, menyakiti dan melukainya bererti memusnahkan mimpi-mimpi itu, memusnahkan harapan dan mengoyak masa depan itu. Yang paling merugi, tentu saja, bukan hanya si anak, tapi juga si orang tua itu sendiri. Bukankah tak sedikit kita dengar cerita anak yang mulanya dianggap penghambat ekonomi keluarga, kelak membawa berkah tiada tara bagi keluargnya? Tak jarang pula kita dengar khabar tentang anak yang diduga membawa musibah justeru menjadi anugerah. Kerana itu, untuk pasangan suami isteri yang memiliki anak-anak kecil dan kemudian melempiaskan emosinya kepada si anak, haruslah berhati-hati. Ia boleh menjadi ‘bom’ untuk anda. Belajarlah memahami dan mengerti dunia anak dengan pola pemikiran dan perasaan si anak, bukan sebaliknya. Janganlah menempatkan cakrawala dan dunia dewasa anda di benak mereka yang masih muda dan berbeda. Mereka punya horizon tersendiri, bahasa benak sendiri dan daya khayalan sendiri yang anda, sebagai orang tua, bertugas sebagai sahabat sebenarnya untuk memperkaya dan mengembangkannya. Pada titik ini, sungguh tepat bila Kahlil Gibran, penyair tersohor dari Lebanon berpuisi: “Anakmu bukanlah milikmu. Mereka putera-puteri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri...” Anak menjadi orang hebat atau jahat itu berawal dari ibu bapa. Ia menjadi impian atau kutukan berawal dari keluarga. Bahkan, sejak di dalam kandungan atau berupa janin, bakal anak ‘anugerah’ atau anak ‘musibah’, anak salih atau tidak salih itu boleh ditilik dari cara ibu bapa mendidiknya. Dapat dilihat dari model si ibu atau si bapa yang mengasuhnya, yang memperlakukannya. Sebagi contoh, saya sendiri pernah menemukan kes seorang ibu bernama Siti [35 tahun], peniaga nasi dimana saya sering berlanggan, bersama ketiga anak perempuannya yang masih kecil-kecil begitu larut dan asyik menyaksikan drama yang tidak mendidik yang ditayangkan sebuah tv swasta. Saya kira, ibu Siti tidak sendiri. Banyak ibu-ibu lainnya di negeri ini yang memang melakukan ‘ritual’ seperti itu. Lalu, apakah laku dan model asuhan ibu-ibu demikian yang mampu melahirkan putera puteri zaman yang salih dan salihah? Seribu doa yang dipanjatkan orang tua - agar anak-anaknya salih dan berjaya - itu akan berpengaruh bila model ‘ritual’ menonton drama bersama di atas menjadi amalan bersama keluarga. Maka itulah, doa di atas atau barangkali doa serupa itu dipohonkan kepada Allah, sebagai ibu bapa, terlebih dulu hendaklah menilik diri sendiri: apakah sudah tepat cara anda memperlakukan si anak sejak ia masih bersemayam di dalam kandungan? Riwayat doa di atas sendiri hakikatnya mengajarkan hal ehwal demikian. Inilah doa yang sentiasa dipanjatkan isteri ‘Imran demi mengharapkan anak yang salih, anak yang bertakwa. Ia bernazar kepada Allah dengan hati yang teguh dan niat yang penuh untuk memberi pendidikan terbaik dan asuhan terbagus bila kelak mendapatkan keturunan. Ia bahkan berjanji akan mendidiknya waktunya untuk beribadah demi si anak yang dikandungnya.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Quran Jelaskan Wanita Mesti Bertudung
Diwaktu mutakhir ini, ada setengah wanita cuba mempertikaikan mengenai “Jilbab” atau pun tudung. Oleh kerana sebahagian dari para wanita tidak memakainya, kita cuba mencari dalil-dalil yang kuat tentang pentingnya wanita memakai Jilbab. Sebuah kitab agama yang menjelaskan tentang masalah ini ada menghuraikan panjang lebar. Ada satu pertanyaan dilontarkan kepada tokoh agama iaitu penulis buku tersebut, dan menjawabnya secara jelas. Oleh kerana jawapan yang diberikan penting bagi wanita-wanita yang menolak dari menggunakan “Jilbab”, maka kita siarkan pertanyaan dan jawapannya untuk renungan kita bersama terutama setengah-setengah wanita yang tidak memakai tudung. Pertanyaan itu berbunyi begini:
• Apa dasarnya atau mana dalil yang mewajibkan wanita mukminat untuk memakai jilbab atau bertudung?
Jawapannya: Dasarnya adalah Kitabullah dan Sunnaturrasul. Mengenai kewajiban berjilbab dan bertudung bagi wanita Mukminat itu Allah s.w.t telah berfirman dalam Al-Quran surah Al-ahzab: 59 dan surah An-Nur: 31, sebagai berikut mahfumnya: “Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita yang beriman, supaya mereka lebih patut dikenal (Jilbab itu ciri khas wanita Mukminat), maka mereka pun tidak diganggu. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Allah s.w.t. berfirman lagi: “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Supaya mereka menahan penglihatannya, dan memelihara kehormatannya, dan tidak memperlihatkan perhiasannya (kecantikkannya) kecuali yang nyata kelihatan (muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangannya). Maka julurkanlah kerudung-kerudung mereka hingga ke dadanya. Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasannya/kecantikannya; kecuali kepada suami mereka, atau bapa mereka, atau bapa suami mereka, atau anak-anak mereka, atau anak-anak suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak-anak saudara perempuan mereka, sahaya kepunyaan mereka, atau laki-laki yang menjalankan kewajipannya (umpama pelayan) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mempunyai pengertian tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan (melangkahkan) kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Jelaslah kedua ayat ini menunjukkan bahawa Allah s.w.t. telah mewajibkan kepada wanita beriman supaya mereka menggunakan Jilbab atau tudungnya. Sehubungan dengan turunnya surah An-Nur ayat 31 yang memerintahkan wanita Mukminat supaya menggunakan kerudungnya, maka berikut ini terdapat beberapa Hadis yang menjelaskan perihal turunnya ayat tersebut, yang antara lain ialah maksudnya: “Berkata Aisyah: Mudah-mudahan Allah mengasihani (merahmati) para wanita Muhajiraat, ketika Allah turunkan ayat: Dan hulurkanlah kerudung-kerudung mereka itu hingga ke dadanya. Mereka sama merobek kain-kainnya yang belum berjahit, lalu mereka gunakan buat kerudung.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Shafiyah binti Syaibah, katanya: Wanita Muhajiraat iaitu para wanita Muslimat uang berhijrah dari kota Makkah ke Kota Madinah. Ketika itu mereka belum memakai Jilbabnya/kerudungnya kerana ayat yang mewajibkan wanita Muslimat untuk memakai Jilbab atau kerudungnya belum turun. Sebaliknya adalah wanita Anshar; iaitu wanita penduduk kota Madinah yang membantu wanita Muhajiraat (Muhajirin). “Berkata Syafiyah binti Syaibah: Ketika kami bersama-sama Aisyah, mereka sebut-sebut wanita-wanita Quraisy dan kelebihannya. Maka Aisyah berkata: Sesungguhnya bagi wanita-wanita Quraisy ada kelebihannya. Tetapi sesungguhnya aku, demi Allah, aku tidak melihat yang lebih mulia selain dari para wanita Anshar, mereka sangat kuat imannya kepada wahyu yang diturunkan. Sungguh ketika diturunkan surat An-Nur - dan hulurkanlah kerudung-kerudung mereka hingga ke dadanya - para lelaki mereka pun pulang, lalu membacakan ayat yang baru turun itu kepada para wanitanya. Maka mereka pun mengambil kain yang kemudian dengan kain itu mereka jadikan kerudung. Itu kerana sangat membenarkan dan beriman kepada apa yang telah diturunkan Allah dalam KitabNya (Al-Quran).” Jelaslah bahawa kerudung itu hukumnya wajib bagi wanita yang mengaku dirinya beriman atau mengaku pemeluk Dienul-Islam.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
• Apa dasarnya atau mana dalil yang mewajibkan wanita mukminat untuk memakai jilbab atau bertudung?
Jawapannya: Dasarnya adalah Kitabullah dan Sunnaturrasul. Mengenai kewajiban berjilbab dan bertudung bagi wanita Mukminat itu Allah s.w.t telah berfirman dalam Al-Quran surah Al-ahzab: 59 dan surah An-Nur: 31, sebagai berikut mahfumnya: “Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita yang beriman, supaya mereka lebih patut dikenal (Jilbab itu ciri khas wanita Mukminat), maka mereka pun tidak diganggu. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Allah s.w.t. berfirman lagi: “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Supaya mereka menahan penglihatannya, dan memelihara kehormatannya, dan tidak memperlihatkan perhiasannya (kecantikkannya) kecuali yang nyata kelihatan (muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangannya). Maka julurkanlah kerudung-kerudung mereka hingga ke dadanya. Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasannya/kecantikannya; kecuali kepada suami mereka, atau bapa mereka, atau bapa suami mereka, atau anak-anak mereka, atau anak-anak suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak-anak saudara perempuan mereka, sahaya kepunyaan mereka, atau laki-laki yang menjalankan kewajipannya (umpama pelayan) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mempunyai pengertian tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan (melangkahkan) kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Jelaslah kedua ayat ini menunjukkan bahawa Allah s.w.t. telah mewajibkan kepada wanita beriman supaya mereka menggunakan Jilbab atau tudungnya. Sehubungan dengan turunnya surah An-Nur ayat 31 yang memerintahkan wanita Mukminat supaya menggunakan kerudungnya, maka berikut ini terdapat beberapa Hadis yang menjelaskan perihal turunnya ayat tersebut, yang antara lain ialah maksudnya: “Berkata Aisyah: Mudah-mudahan Allah mengasihani (merahmati) para wanita Muhajiraat, ketika Allah turunkan ayat: Dan hulurkanlah kerudung-kerudung mereka itu hingga ke dadanya. Mereka sama merobek kain-kainnya yang belum berjahit, lalu mereka gunakan buat kerudung.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Shafiyah binti Syaibah, katanya: Wanita Muhajiraat iaitu para wanita Muslimat uang berhijrah dari kota Makkah ke Kota Madinah. Ketika itu mereka belum memakai Jilbabnya/kerudungnya kerana ayat yang mewajibkan wanita Muslimat untuk memakai Jilbab atau kerudungnya belum turun. Sebaliknya adalah wanita Anshar; iaitu wanita penduduk kota Madinah yang membantu wanita Muhajiraat (Muhajirin). “Berkata Syafiyah binti Syaibah: Ketika kami bersama-sama Aisyah, mereka sebut-sebut wanita-wanita Quraisy dan kelebihannya. Maka Aisyah berkata: Sesungguhnya bagi wanita-wanita Quraisy ada kelebihannya. Tetapi sesungguhnya aku, demi Allah, aku tidak melihat yang lebih mulia selain dari para wanita Anshar, mereka sangat kuat imannya kepada wahyu yang diturunkan. Sungguh ketika diturunkan surat An-Nur - dan hulurkanlah kerudung-kerudung mereka hingga ke dadanya - para lelaki mereka pun pulang, lalu membacakan ayat yang baru turun itu kepada para wanitanya. Maka mereka pun mengambil kain yang kemudian dengan kain itu mereka jadikan kerudung. Itu kerana sangat membenarkan dan beriman kepada apa yang telah diturunkan Allah dalam KitabNya (Al-Quran).” Jelaslah bahawa kerudung itu hukumnya wajib bagi wanita yang mengaku dirinya beriman atau mengaku pemeluk Dienul-Islam.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Benarkah Syaitan Boleh Terpasung?
APAKAH anda pernah melihat berbagai tayangan misteri dokumentari tentang bagaimana seorang kiai atau ustaz yang berhasil menaklukkan syaitan atau jin lalu dimasukkan ke dalam botol? Sepintas lalu, kita melihatnya sebagai hal yang aneh. Sebahagian orang mungkin tidak mempercayainya, meski banyak juga orang yang membenarkannya. Bagi yang tidak percaya berpendapat bahawa tidak mungkin seorang manusia dapat menaklukkan jin. Sebab, alam antara manusia dan jin berbeza, jangankan untuk menaklukkan mereka, melihat wujudnya saja tidak boleh. Namun, bagi yang percaya, mereka yakin bahawa manusia yang memiliki kemampuan khusus mampu melakukannya. Orang-orang yang punya ilmu spiritual atau kebatinan mampu melakukannya dengan mudah. Bahkan, tidak saja boleh memasukkan jin atau syaitan tersebut ke dalam botol, memasukkan mereka ke dalam tubuh manusia lalu di ajak berdialog pun boleh dilakukan. Ini memang persoalan penafsiran kerana hal yang kita hadapi adalah masalah ghaib yang hakikatnya hanya Allah yang tahu. Namun, jika anda melihat kisah tentang para Nabi khususnya Nabi Sulaiman a.s., maka kita boleh melihat bagaimana syaitan-syaitan itu boleh diperintahkan dan disuruh sesuai kehendak Nabi. Mereka itu, para Nabi berbeza dengan kita sebagai manusia biasa. Betul, tetapi kita juga tidak boleh menafikan bahawa Tuhan Nabi dan Tuhan kita juga sama, iaitu Allah s.w.t. Ertinya, ketika Allah sudah memberikan kemampuan khusus (ilmu khasyaf) kepada manusia maka, kemampuan dia pun boleh mendekati kemampuan Nabi. Lihat saja bagaimana, dalam beberapa riwayat, kemampuan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani yang boleh melihat kedatangan jin. Tentu, dia pun boleh menakjubkannya. Namun, jelas tulisan ini bukan untuk mengungkap sisi perbedaan-perbedaan itu. Di sini hanya dijelaskan bahawa syaitan ternyata boleh dipasung oleh manusia. Bukti sejarah ini diungkap oleh salah seorang panglima perang bernama Musa bin Nashir. Dikisahkan Sufyan bin Abdullah, ketika masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz - yakni salah seorang khalifah dari Dinasti Umaiyyah diutuslah seorang panglima perang bernama Musa bin Nashir untuk mengawasi wilayah kekuasaannya di bahagian Barat. Sepulangannya Musa dari pemantauan tersebut. Ia kemudian melapor pada khalifah tentang kejadian aneh yang pernah ia alami bersama pasukannya. Menurutnya, ketika tiba di sebuah pulau, mereka melihat ada sebuah rumah yang cukup besar. Ketika diselidiki, ternyata rumah itu tidak berpenghuni. Tapi, ungkapnya, di dalam rumah besar tersebut terdapat tujuh belas tong besar. Semuanya masih dalam keadaan tertutup rapat. Pada bahagian atasnya, masing-masing terdapat tanda cop rasmi. Setelah diteliti secara rapi, ternyata cop rasmi tersebut dipastikan sebagai cop milik kerajaan Nabi Sulaiman a.s. Musa kemudian memerintahkan pasukannya untuk membawa keluar dari rumah itu sebanyak empat buah tong guna diteliti apakah isinya. Maka dibuatlah lubang pada tong tersebut pada ukuran yang cukup untuk melihat dan mengetahui isinya. Setelah salah satu tong itu berhasil dilubangi dan dilihat isi yang terdapat di dalamnya, Musa pun jadi terkejut. Sebab, ternyata di dalam tong itu terdapat sesusuk makhluk yang kemudiannya diketahui bahawa itu adalah syaitan. Makhluk itu kelihatan meringkuk ketakutan. Musa baru memastikan bahawa makhluk yang ada di dalam tong itu berkata, “Demi zat yang memuliakan Sulaiman dengan darjat kenabian. Sungguh aku tak akan mengulangi perbuatan itu lagi selamanya. Akulah yang pernah berbuat kerosakan di bumi ini.” Musa dan pasukannya sempat terpaku oleh pemandangan yang mereka lihat saat itu. Kesempatan tersebut dimanfaatkan syaitan untuk melompat keluar dari tong tersebut. Syaitan itu kemudian lari tunggang langgang dan menghilang. Melihat kejadian yang berlalu sangat cepat itu, Musa berkesimpulan bahawa semua tong yang mereka temukan itu berisi syaitan yang telah dihukum pada zaman Nabi Sulaiman a.s. kerana membangkangnya. Musa kemudian memerintahkan pasukannya untuk mengembalikan ketiga tong yang masih tertutup rapat dan satu tong yang sudah terbuka tersebut ke tempatnya semula, disatukan lagi dengan ketiga belas tong lainnya yang masih teronggok di dalam rumah besar itu. Dalam riwayat lain, yakni dari Abbas bin Walid, juga dikisahkan tentang pengalaman Musa bin Nashir menemukan syaitan sedang terpasung di dalam tong. Menurut Abbas pada waktu pasukan di bawah pimpinan Musa bin Nashir ditugaskan ke wilayah Andalusia (Sepanyol), Musa dan pasukannya mengalami sebuah kes yang cukup aneh. Saat itu, ujarnya, Musa dan pasukannya tengah mengharungi lautan di malam hari untuk memantau keadaan sekitar. Tiba-tiba Musa mendengar ada suara benturan kecil berkali-kali menghentam kapal mereka.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Nabi s.a.w. Tidak Menolak Hadiah
PETANG itu, Anita menimang-nimang sebuah hadiah yang terbungkus rapi. Dia disergap rasa ragu-ragu untuk membuka hadiah yang baru saja dia terima dari seorang tetangganya, kerana dia merasa belum kenal mesra. Maklum, Anita baru dua hari menghuni di taman perumahan itu, setelah Hadi, suaminya mendapatkan kemudahan rumah sewa dari syarikat tempatnya bertugas. Saat Anita masih menimang-nimang hadiah itu, Hadi baru balik dari pejabat. Anita menyambut suaminya, dan keduanya kemudian duduk di ruang tamu. Anita lalu bercerita, “Tadi ada tetangga kita datang memberi hadiah,” ucapnya seraya menunjukkan hadiah itu kepada Hadi. “Kenapa tidak dibuka?” Anita memandang Hadi. Dia diserkup rasa keraguan, “Kita tidak kenal akrab dengan mereka, apa tidak sebaiknya kita kembalikan?” Hadi geleng-geleng kepala, “Tak baik mengembalikan hadiah dari orang, Nabi pun mahu menerima hadiah.” Apa yang diucapkan Hadi itu memang tidak salah. Sebab, Nabi s.a.w. pun mahu menerima hadiah. Sebab hadiah boleh mendatangkan perasaan akrab, kecintaan, dan dapat menghilangkan dendam. Untuk mempererat sosial itulah, Nabi s.a.w. menganjurkan saling memberi hadiah. “Saling memberi hadiahlah kalian, nescaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari) Dalam hadis lain, Nabi s.a.w. juga bersabda: “Penuhilah undangan orang yang mengundang, janganlah menolak hadiah...” (HR Ahmad dan Bukhari). Bahkan Nabi s.a.w. membentangkan tangan untuk mendoakan seseorang yang memberi hadiah. Diriwayatkan dari Aisyah r.a., “Rasulullah s.a.w. menerima hadiah dan mendoakan pahala bagi (pemberi)-nya.” (HR. Bukhari)
Hadiah dari seseorang - sekecil atau seremeh apa pun - tetap harus dihargai. Tak baik melihat hadiah dari segi harga atau bentuknya, tapi harus dilihat dari perhatian dan kecintaan yang dilimpahkan oleh si pemberi hadiah.
Rasulullah selalu rendah hati menerima undangan dan pemberian yang dihadiahkan kepada baginda, sebagaimana sebuah hadis yang berbunyi: “Andai kata aku diundang untuk memakan makanan (yang berupa) bahagian kasta atau bahagian di bawah tumit, nescaya aku penuhi undangan itu, dan andai kata aku dihadiahi hal yang sama juga nescaya aku menerimanya.” (HR. Bukhari) Nabi s.a.w. tak menolak hadiah, tetapi Nabi s.a.w. tak mahu menerima yang berbentuk sedekah.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Hadiah dari seseorang - sekecil atau seremeh apa pun - tetap harus dihargai. Tak baik melihat hadiah dari segi harga atau bentuknya, tapi harus dilihat dari perhatian dan kecintaan yang dilimpahkan oleh si pemberi hadiah.
Rasulullah selalu rendah hati menerima undangan dan pemberian yang dihadiahkan kepada baginda, sebagaimana sebuah hadis yang berbunyi: “Andai kata aku diundang untuk memakan makanan (yang berupa) bahagian kasta atau bahagian di bawah tumit, nescaya aku penuhi undangan itu, dan andai kata aku dihadiahi hal yang sama juga nescaya aku menerimanya.” (HR. Bukhari) Nabi s.a.w. tak menolak hadiah, tetapi Nabi s.a.w. tak mahu menerima yang berbentuk sedekah.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Sihat Pagi Sampai Malam Ikut Cara Rasulullah
1. Bangun Subuh
Tips ini tentulah paling terkenal. Dengan bangun pagi, fikiran perasaan juga biasanya lebih segar dan tenang. Bangun Subuh juga dapat mencegah stroke dan tekanan darah tinggi yang umumnya lazimnya terjadi pada waktu itu kerana penyempitan pembuluh darah. Di luar itu sebenarnya terkait reaksi awal yang diterima tubuh, yakni udara segar. Menurut pakar udara, waktu subuh sangat baik kerana kaya oksigen dan biasanya masih bersih tak terkotori unsur lain udara yang baik tentu saja berguna untuk metabolisme tubuh dalam beraktiviti seharian penuh.
Pada pagi hari juga digunakan Nabi s.a.w. untuk bersiwak atau menggosok gigi. Gigi dan mulut yang bersih berguna memperlancar dan memperbaiki proses menghadam makanan agar maksima diserap tubuh.
2. Minum Air Putih dan Madu
Nabi s.a.w. biasa membuka sarapan pagi dengan minum air putih dan sesudu madu. Dua unsur ini sangat luar biasa manfaatnya. Madu masyhur sebagai penyembuh dan air putih kaya akan mineral yang menyukupi keperluan tubuh akan cairan dan sebagai pencuci hati. Madu juga terkenal sebagai unsur yang dapat membersihkan usus dan mencegah peradangan. Selanjutnya adalah memakan buah kurma sebanyak 7 biji. Diriwayatkan kebiasaan inilah yang menolong Nabi s.a.w. dari perilaku jahat wanita Yahudi yang cuba meracuninya dalam perang Khaibar. Kurma ternyata berguna sebagai penangkal racun selain sebagai makanan pengenyang yang kaya gula dan karbohidrat.
3. Minyak Zaitun
Waktu siang dan menjelang petang, Nabi s.a.w. juga biasa dengan menu cuka, minyak zaitun dan roti. Kombinasi makanan ini ternyata dapat menguatkan tulang, mencegah cepat tua serta menghancurkan kolesterol jahat dalam tubuh. Pada musim sejuk, makanan ini sangat baik menjaga kestabilan suhu tubuh.
4. Makan Sayuran di Malam Hari
Mengambil sayuran di malam hari juga dilakukan Rasulullah s.a.w. Beberapa riwayat mengatakan, Rasulullah s.a.w. selalu mengambil sana al makki dan sanut. Menurut Prof. Dr. Musthofa, di Mesir keduanya mirip dengan Sabbath dan ba’dunis. Nama-nama ini tak lain adalah sayuran yang juga banyak kita temui di sini. Bentuk olahan masakan atau menunya tentu berbagai pula. Boleh ikut selera masing-masing. Boleh masak sup sayur atau sebagainya. Secara umumnya, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama iaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindungi dari serangan penyakit. Rasulullah s.a.w. biasanya tidak langsung tidur setelah makan malam, melainkan beraktiviti terlebih dulu supaya makanan yang dimakan masuk ke dalam perut dengan cepat dan baik sehingga mudah dicerna. Caranya juga boleh dengan bersolat. Sabdanya: “Cairkan makanan kalian dengan berzikir kepada Allah s.w.t. dan solat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan kerana dapat membuat hati kalian menjadi keras.” (HR. Abu Nu’aim dari Aisyah r.a.) Ibnu Qoyyim al-Jauziyah juga memberi tips agar tidak langsung tidur setelah makan. Dia menyarankan untuk berjalan paling kurang 40 langkah agar makanan dapat beredar terlebih dulu dalam tubuh. Di samping menu wajib di atas, ada beberapa makanan yang disukai Rasulullah s.a.w. tetapi tidak rutin mengambilnya. Diantaranya, tsarid iaitu campuran antara roti dengan daging dengan kuah air masak. Baginda juga senang makan buah yaqthin atau labu air, yang terbukti boleh mencegah penyakit gula. Nabi s.a.w. juga senang makan buah anggur dan minum susu.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Tips ini tentulah paling terkenal. Dengan bangun pagi, fikiran perasaan juga biasanya lebih segar dan tenang. Bangun Subuh juga dapat mencegah stroke dan tekanan darah tinggi yang umumnya lazimnya terjadi pada waktu itu kerana penyempitan pembuluh darah. Di luar itu sebenarnya terkait reaksi awal yang diterima tubuh, yakni udara segar. Menurut pakar udara, waktu subuh sangat baik kerana kaya oksigen dan biasanya masih bersih tak terkotori unsur lain udara yang baik tentu saja berguna untuk metabolisme tubuh dalam beraktiviti seharian penuh.
Pada pagi hari juga digunakan Nabi s.a.w. untuk bersiwak atau menggosok gigi. Gigi dan mulut yang bersih berguna memperlancar dan memperbaiki proses menghadam makanan agar maksima diserap tubuh.
2. Minum Air Putih dan Madu
Nabi s.a.w. biasa membuka sarapan pagi dengan minum air putih dan sesudu madu. Dua unsur ini sangat luar biasa manfaatnya. Madu masyhur sebagai penyembuh dan air putih kaya akan mineral yang menyukupi keperluan tubuh akan cairan dan sebagai pencuci hati. Madu juga terkenal sebagai unsur yang dapat membersihkan usus dan mencegah peradangan. Selanjutnya adalah memakan buah kurma sebanyak 7 biji. Diriwayatkan kebiasaan inilah yang menolong Nabi s.a.w. dari perilaku jahat wanita Yahudi yang cuba meracuninya dalam perang Khaibar. Kurma ternyata berguna sebagai penangkal racun selain sebagai makanan pengenyang yang kaya gula dan karbohidrat.
3. Minyak Zaitun
Waktu siang dan menjelang petang, Nabi s.a.w. juga biasa dengan menu cuka, minyak zaitun dan roti. Kombinasi makanan ini ternyata dapat menguatkan tulang, mencegah cepat tua serta menghancurkan kolesterol jahat dalam tubuh. Pada musim sejuk, makanan ini sangat baik menjaga kestabilan suhu tubuh.
4. Makan Sayuran di Malam Hari
Mengambil sayuran di malam hari juga dilakukan Rasulullah s.a.w. Beberapa riwayat mengatakan, Rasulullah s.a.w. selalu mengambil sana al makki dan sanut. Menurut Prof. Dr. Musthofa, di Mesir keduanya mirip dengan Sabbath dan ba’dunis. Nama-nama ini tak lain adalah sayuran yang juga banyak kita temui di sini. Bentuk olahan masakan atau menunya tentu berbagai pula. Boleh ikut selera masing-masing. Boleh masak sup sayur atau sebagainya. Secara umumnya, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama iaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindungi dari serangan penyakit. Rasulullah s.a.w. biasanya tidak langsung tidur setelah makan malam, melainkan beraktiviti terlebih dulu supaya makanan yang dimakan masuk ke dalam perut dengan cepat dan baik sehingga mudah dicerna. Caranya juga boleh dengan bersolat. Sabdanya: “Cairkan makanan kalian dengan berzikir kepada Allah s.w.t. dan solat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan kerana dapat membuat hati kalian menjadi keras.” (HR. Abu Nu’aim dari Aisyah r.a.) Ibnu Qoyyim al-Jauziyah juga memberi tips agar tidak langsung tidur setelah makan. Dia menyarankan untuk berjalan paling kurang 40 langkah agar makanan dapat beredar terlebih dulu dalam tubuh. Di samping menu wajib di atas, ada beberapa makanan yang disukai Rasulullah s.a.w. tetapi tidak rutin mengambilnya. Diantaranya, tsarid iaitu campuran antara roti dengan daging dengan kuah air masak. Baginda juga senang makan buah yaqthin atau labu air, yang terbukti boleh mencegah penyakit gula. Nabi s.a.w. juga senang makan buah anggur dan minum susu.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Ehwal Mani, Mazi Dan Wadi
Agama memang teliti; bukan hanya mengulas mengenai ibadah lazim sebagaimana kita ketahui, namun juga memerhatikan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sampai persoalan macam-macam cairan yang keluar dari alat kemaluan kita pun tak luput dari pembahasan. Apalagi, kalau bukan soal air mani, air mazi dan air wadi. Dalam agama, jika anak sudah menginjak usia baligh (ditandai dengan mimpi basah bagi lelaki atau kedatangan haid bagi perempuan), mengetahui ketiga hal tersebut adalah penting. Pada usia baligh, anak biasanya telah mengalami beberapa perubahan fizik. Di antara perubahan itu adalah perkembangan fungsi serta fizik organ bagi lelaki dan perempuan. Ketika mereka telah baligh itu sama ertinya telah dikenai tanggungjawab (mukallaf), yakni tanggungjawab apa saja yang telah diatur sedemikian rupa oleh agama, seperti dalam rukun Islam yang lima dan rukun iman yang enam. Jika menyangkut soal ibadah tentu tak boleh dipermudahkan. Sebab terkait dengan syarat dan rukun. Ketika salah satu syaratnya tidak terpenuhi, maka ibadah yang dilakukan pun menjadi sia-sia. Jadi, baik syarat dan rukunnya semua harus terpenuhi. Begitu pun dalam solat. Apa saja yang menjadikan sahnya solat, mesti diketahui oleh orang yang sudah menginjak baligh. Bila tidak, tentu menjadi masalah yang serius, di antaranya adalah bersuci lebih dahulu; baik badan, tempat bersolat, mahupun pakaian. Tidak boleh satu pun di antara ketiganya dalam keadaan najis sewaktu menunaikan solat. Bila ada satu yang tidak terpenuhi kesuciannya, maka solatnya pun dipastikan tidak sah. Bersuci adalah syarat mutlak bagi seseorang yang hendak bersolat. Maksud bersuci adalah terbebas dari hal-hal yang najis serta hadas kecil dan besar. Sebagaimana kita ketahui, najis banyak ragamnya dan tata cara untuk menyucikannya pernah dibahas sebelumnya, akan tetapi edisi kali ini hanya fokus menyoroti ketiga cairan yang keluar dari alat kemaluan lelaki dan perempuan. Kenapa ketiga cairan tersebut perlu diulas? Kerana masing-masing punya identiti yang berbeza. Ketika kita membicarakan soal mani (sperma), maka tidak serta merta status hukumnya seperti air mazi atau air mani. Meski sama-sama cairan yang keluar dari alat kemaluan, namun ketiganya mempunyai ciri yang berbeza.
Dari Sudut Hukum
Ketiga istilah tersebut memang sering kita dengar dalam kajian fikih. Akan tetapi, dalam keadaan sebenarnya, mungkin tak sedikit orang yang mengabaikannya. Boleh jadi lantaran menganggapnya hal yang biasa atau remeh, seperti air kencing biasa atau menghukumi seperti air mani. Padahal cairan-cairan tersebut mempunyai implikasi yang signifikan berkaitan ibadah. Seseorang wajib mandi janabah apabila mengeluarkan sperma [mani], baik sengaja atau tidak sengaja atau kerana terjadi hubungan suami isteri meskipun tidak sampai mengeluarkan mani. Jika tidak mandi junub (lelaki dan perempuan) terlebih dahulu, maka solatnya dianggap tidak sah kerana ia masih menanggung beban yang hanya boleh disucikan dengan mandi junub. Berbeza dengan seseorang yang mengeluarkan air mazi atau air wadi. Orang tidak wajib mandi janabah, tetapi keluarnya mazi atau wadi tersebut membatalkan wuduk. Hukum air mazi dan wadi pun seperti najis yang harus dibersihkan. Kerana itu, apabila ada yang sedang tidur kemudian mengeluarkan mazi saat tidur, ia hanya wajib membersihkan pakaian atau anggota badannya yang terkena mazi tersebut dan berwuduk jika mahu mendirikan solat. Dan seseorang yang mengeluarkan mazi atau wadi saat sedang dalam keadaan solat, maka solatnya menjadi batal dan ia harus membersihkan pakaian atau anggota badannya yang terkena mazi atau wadi tersebut, kemudian berwuduk dan mengulang solatnya kembali dari awal.
Perbezaan dan Cirinya
Agak rumit memang membezakan ketiganya. Hanya saja, jika melihat dari latar belakang keluarnya ketiga cairan ini, maka kita boleh membezakannya jenis yang timbul akibat cairan yang keluar itu; apakah menyebabkan mandi wajib ataukah cukup membersihkan yang terkena pancutannya?
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Dari Sudut Hukum
Ketiga istilah tersebut memang sering kita dengar dalam kajian fikih. Akan tetapi, dalam keadaan sebenarnya, mungkin tak sedikit orang yang mengabaikannya. Boleh jadi lantaran menganggapnya hal yang biasa atau remeh, seperti air kencing biasa atau menghukumi seperti air mani. Padahal cairan-cairan tersebut mempunyai implikasi yang signifikan berkaitan ibadah. Seseorang wajib mandi janabah apabila mengeluarkan sperma [mani], baik sengaja atau tidak sengaja atau kerana terjadi hubungan suami isteri meskipun tidak sampai mengeluarkan mani. Jika tidak mandi junub (lelaki dan perempuan) terlebih dahulu, maka solatnya dianggap tidak sah kerana ia masih menanggung beban yang hanya boleh disucikan dengan mandi junub. Berbeza dengan seseorang yang mengeluarkan air mazi atau air wadi. Orang tidak wajib mandi janabah, tetapi keluarnya mazi atau wadi tersebut membatalkan wuduk. Hukum air mazi dan wadi pun seperti najis yang harus dibersihkan. Kerana itu, apabila ada yang sedang tidur kemudian mengeluarkan mazi saat tidur, ia hanya wajib membersihkan pakaian atau anggota badannya yang terkena mazi tersebut dan berwuduk jika mahu mendirikan solat. Dan seseorang yang mengeluarkan mazi atau wadi saat sedang dalam keadaan solat, maka solatnya menjadi batal dan ia harus membersihkan pakaian atau anggota badannya yang terkena mazi atau wadi tersebut, kemudian berwuduk dan mengulang solatnya kembali dari awal.
Perbezaan dan Cirinya
Agak rumit memang membezakan ketiganya. Hanya saja, jika melihat dari latar belakang keluarnya ketiga cairan ini, maka kita boleh membezakannya jenis yang timbul akibat cairan yang keluar itu; apakah menyebabkan mandi wajib ataukah cukup membersihkan yang terkena pancutannya?
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Apabila Perceraian Menjadi Jalan Keluar
ENAM tahun sudah Dania dan Ihsan mengharungi bahtera rumahtangga. Sebagai pasangan muda, kehidupan keduanya dipandang banyak orang cukup bahagia. Usia keduanya sama-sama baru awal 30-an, namun pencapaian hidup lebih dari cukup, memiliki anak perempuan yang comel, rumah yang selesa dan kerjaya juga agak lumayan. Sayangnya, semua kenikmatan dunia itu tak cukup membuat hati keduanya diliputi kebahagiaan.
Sudah dua kali Ihsan menjalin cinta dengan wanita lain secara terang-terangan. Pertama, saat Dania sedang hamil namun akhirnya berakhir dengan penyesalan dan permohonan maaf dari Ihsan. Dan kini, saat usia si anak masuk tahun keempat, Ihsan kembali melirik wanita lain. Jelas sudah persoalan antara keduanya tidak pernah benar-benar dapat diselesaikan. Punca konflik sendiri sebenarnya cukup kompleks. Ihsan merasa Dania tidak boleh tampil sempurna layaknya wanita cantik, kurang boleh berperanan sebagai wanita rumahtangga, abai terhadap apa yang diinginkannya, sehingga ia merasa wajar mencari wanita lain. Dania pula sendiri justeru merasa sebaliknya, telah melakukan semua yang diinginkan Ihsan. Bahkan peranan ganda pun harus ia lakukan demi memenuhi target mimpi mereka berdua, meraih kemantapan ekonomi rumahtangga agar di usia tua nanti tinggal boleh menikmati hasilnya. Sekuat tenaga Dania memainkan peranan sebagai isteri, ibu serta pekerja. Waktunya banyak habis untuk pejabat, anak, suami dan rumahtangganya. Belum luruh penatnya usai dari pejabat, ia harus rela menahan mengantuk apabila anaknya terjaga, melayani suami, menyiapkan keperluan keesokan harinya, dapur serta keperluan lain agar pusingan kehidupan rumahtangga berjalan normal. Kadang-kadang dia merasa dialah denyut nadi rumahtangga itu. Namun, mengapa semua lakon isteri yang semestinya dihargai tinggi malah dibalas dengan nista? Tanpa lelah Dania mengusahakan rumahtangganya agar boleh bertahan. Suaminya tak berganjak, malah merasa benar sendiri. Ihsan malah menuding Dania tak pernah bertolak ansur. Padahal, berkali-kali Dania menawarkan agar mencari pihak lain yang mampu menjernihkan mereka. Namun Ihsan malah mencemuh. Lambat laun, kesabaran Dania luruh. Ia benar-benar tak kuasa menanggung nestapa hingga nyaris memilih cerai. Pembaca budiman, konflik rumahtangga Dania-Ihsan hanyalah satu dari sekian banyak masalah rumahtangga yang kerapkali muncul di sekitar kita. Dalam majalah Hidayah ini saja, persoalan rumahtangga yang masuk tak pernah kosong - padahal jelas bukan majalah keluarga, baik yang hadir melalui halaman konsultasi, melalui telefon, email, sms serta yang lainnya. Bagaimana dengan di luar sana? Tidak menutup kemungkinan lebih banyak bukan? Kerana itu pula, angin penceraian akibat rumitnya konflik akan semakin kencang berhembus. Apalagi jika konflik sudah memasuki kekerasan fizik dan mengancam jiwa! Namun, sebelum jalan buntu itu benar-benar terlihat jelas, ada baiknya kita mencermati hal-hal berikut.
KEPERLUAN BATIN
Seperti mendapatkan sesuatu yang penulis perlukan dalam menuangkan idea penulisan ini, Salim A Fillah dalam Menjaga Cinta Dengan Kata yang dipaparkan dalam majalah Paras No. 50/2007 (Edisi Jakarta) sungguh menggugah kesedaran. Salim mengingatkan, bahawa ketika perkahwinan telah berlangsung , masing-masing pasangan sepertinya dihinggapinya perasaan – “tahu sama tahu”. Kerana kita merasa isteri kita tahu bahawa kita mencintainya, maka saat ia bertanya ‘Apakah kau mencintaiku?’ suami menjawab, “Kau kan tahu itu.” ‘Rindukah kau padaku?’ ‘Berertikah aku buatmu?’ dan kalimat-kalimat senada lainnya, pasangan kita hanya menegaskan, ‘Kau kan tahu itu’ sambil berlalu, membaca akhbar atau bermain dengan handphone. Ya. Diakui atau tidak, sindrom “tahu sama tahu” itu seperti tradisi, biasa dilakuni setiap pasangan berumahtangga. Padahal secara jujur saja, rumahtangga yang kita bangun bukan semata-mata untuk meneruskan berjalannya arus kehidupan; berkahwin, punya anak, cucu, mertua, lantas tutup usia. Atau, sekadar memenuhi kewajipan status, suami mencari nafkah untuk anak isteri, isteri menyiapkan keperluan suami dan anaknya. Jika hanya itu, kemana hati dan jiwa kita labuhkan saat memerlukan rasa bahagia?
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Sudah dua kali Ihsan menjalin cinta dengan wanita lain secara terang-terangan. Pertama, saat Dania sedang hamil namun akhirnya berakhir dengan penyesalan dan permohonan maaf dari Ihsan. Dan kini, saat usia si anak masuk tahun keempat, Ihsan kembali melirik wanita lain. Jelas sudah persoalan antara keduanya tidak pernah benar-benar dapat diselesaikan. Punca konflik sendiri sebenarnya cukup kompleks. Ihsan merasa Dania tidak boleh tampil sempurna layaknya wanita cantik, kurang boleh berperanan sebagai wanita rumahtangga, abai terhadap apa yang diinginkannya, sehingga ia merasa wajar mencari wanita lain. Dania pula sendiri justeru merasa sebaliknya, telah melakukan semua yang diinginkan Ihsan. Bahkan peranan ganda pun harus ia lakukan demi memenuhi target mimpi mereka berdua, meraih kemantapan ekonomi rumahtangga agar di usia tua nanti tinggal boleh menikmati hasilnya. Sekuat tenaga Dania memainkan peranan sebagai isteri, ibu serta pekerja. Waktunya banyak habis untuk pejabat, anak, suami dan rumahtangganya. Belum luruh penatnya usai dari pejabat, ia harus rela menahan mengantuk apabila anaknya terjaga, melayani suami, menyiapkan keperluan keesokan harinya, dapur serta keperluan lain agar pusingan kehidupan rumahtangga berjalan normal. Kadang-kadang dia merasa dialah denyut nadi rumahtangga itu. Namun, mengapa semua lakon isteri yang semestinya dihargai tinggi malah dibalas dengan nista? Tanpa lelah Dania mengusahakan rumahtangganya agar boleh bertahan. Suaminya tak berganjak, malah merasa benar sendiri. Ihsan malah menuding Dania tak pernah bertolak ansur. Padahal, berkali-kali Dania menawarkan agar mencari pihak lain yang mampu menjernihkan mereka. Namun Ihsan malah mencemuh. Lambat laun, kesabaran Dania luruh. Ia benar-benar tak kuasa menanggung nestapa hingga nyaris memilih cerai. Pembaca budiman, konflik rumahtangga Dania-Ihsan hanyalah satu dari sekian banyak masalah rumahtangga yang kerapkali muncul di sekitar kita. Dalam majalah Hidayah ini saja, persoalan rumahtangga yang masuk tak pernah kosong - padahal jelas bukan majalah keluarga, baik yang hadir melalui halaman konsultasi, melalui telefon, email, sms serta yang lainnya. Bagaimana dengan di luar sana? Tidak menutup kemungkinan lebih banyak bukan? Kerana itu pula, angin penceraian akibat rumitnya konflik akan semakin kencang berhembus. Apalagi jika konflik sudah memasuki kekerasan fizik dan mengancam jiwa! Namun, sebelum jalan buntu itu benar-benar terlihat jelas, ada baiknya kita mencermati hal-hal berikut.
KEPERLUAN BATIN
Seperti mendapatkan sesuatu yang penulis perlukan dalam menuangkan idea penulisan ini, Salim A Fillah dalam Menjaga Cinta Dengan Kata yang dipaparkan dalam majalah Paras No. 50/2007 (Edisi Jakarta) sungguh menggugah kesedaran. Salim mengingatkan, bahawa ketika perkahwinan telah berlangsung , masing-masing pasangan sepertinya dihinggapinya perasaan – “tahu sama tahu”. Kerana kita merasa isteri kita tahu bahawa kita mencintainya, maka saat ia bertanya ‘Apakah kau mencintaiku?’ suami menjawab, “Kau kan tahu itu.” ‘Rindukah kau padaku?’ ‘Berertikah aku buatmu?’ dan kalimat-kalimat senada lainnya, pasangan kita hanya menegaskan, ‘Kau kan tahu itu’ sambil berlalu, membaca akhbar atau bermain dengan handphone. Ya. Diakui atau tidak, sindrom “tahu sama tahu” itu seperti tradisi, biasa dilakuni setiap pasangan berumahtangga. Padahal secara jujur saja, rumahtangga yang kita bangun bukan semata-mata untuk meneruskan berjalannya arus kehidupan; berkahwin, punya anak, cucu, mertua, lantas tutup usia. Atau, sekadar memenuhi kewajipan status, suami mencari nafkah untuk anak isteri, isteri menyiapkan keperluan suami dan anaknya. Jika hanya itu, kemana hati dan jiwa kita labuhkan saat memerlukan rasa bahagia?
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Manusia Kenal Sifat Saja, Tidak ZatNya
SELAMA ini kita hanya mendengar “Al-Asmaul Husna” cuma dinyanyikan saja. Kalau ada buku-buku agama yang menerangkan tentang “Asmaul Husna” ini hanya setakat terjemahannya saja. Memang kita jarang temui ada huraian yang detail atau pun secara “rinci” mengenai Nama-nama Allah yang Baik-Baik ini, (Asmaul Husna). Asmaul Husna ini ialah satu pengajaran “Tauhid” bagi mengenai Allah menerusi “Asmaul Husna”. Ia juga menegaskan supaya kita memohon kepada Allah s.w.t. dengan menggunakan Asmaul Husna ini. Sebenarnya ada penghuraiannya yang sangat menarik dan sangat memberi faedah dan ilmu kepada kita. Bukan setakat kita melagukan nama-nama itu, kita mestilah memahami isi kandungannya. Sebagai “mukadimahnya” apa sebenarnya yang terkandung dalam “Asmaul Husna” yang sering kita dengar menerusi Radio, TV dan dalam majlis-majlis tertentu dimana ia dilagu-lagukan. Yang penting bagi kita ialah untuk mengetahui isi yang terkandung di dalam perkataan-perkataan “Asmaul Husna’ itu. Ia mengandung Ke Agungan Allah, kebesaran, kemuliaan Allah dan Maha itu dan Maha khas bagi Allah semata-mata. Dalam masalah ini, Allah s.w.t berfirman dalam Al-Quran surah Al-A’raf ayat 180 yang mafhumnya: “Hanya milik Allah Asmaul Husna maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut nama-nama (yang indah) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” Pencarian Tuhan termasuk proses yang sangat tua usianya, setua usia manusia itu sendiri. Oleh kerana itu, dalam peradaban mana pun dan dimana pun, proses ini sentiasa termasuk di dalamnya. Kecenderungan untuk mendapatkan rasa aman dan mengalihkan diri dari rasa takut telah mendorong mereka untuk mengaitkan dirinya dengan sesuatu yang dianggap lebih tinggi yang kemudian dianggapkan sebagai Tuhan. Pada masyarakat primitif, sesuatu itu berasal dari kekuatan-kekuatan alam yang menampilkan diri dalam benda-benda dan sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan. Lahirlah kepercayaan terhadap benda-benda atau dewa-dewi yang menjadi pengaruh dan kekuatan-kekuatan tersebut. Dalam konteks agama tauhid, konteks pencarian ini pun mendapat pembenaran sejarah melalui proses pencarian Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s. Dibandingkan utusan-utusan Tuhan lainnya, boleh jadi Ibrahimlah satu-satunya nabi yang harus mencari terlebih dahulu Tuhannya. Kemudian, dengan bimbingan Tuhan, baginda menemukan apa yang dicarinya dan mengimaninya. “...dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Namun, setelah bulan itu terbenam, dia berkata, ‘Sesungguhnya, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.’ Kemudian, tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar,’ maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, ‘Hai,kaumku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya, aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Al-An’am: 75-79) Kerana hasil dari pencariannya tersebut, Nabi Ibrahim dikenal sebagai “Bapak Monoteisme” atau “Bapa Ketauhidan” yang diakui oleh tiga agama besar, iaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Kepada baginda pulalah bersambung tali kekerabatan para utusan Allah yang hidup setelahnya.
Penemuan Nabi Ibrahim mampu membebaskan manusia dari perhambaan. Tuhan yang ditemukan Nabi Ibrahim adalah Tuhan yang melintasi suku, ras dan bangsa tertentu. Tuhan yang ditemukan Nabi Ibrahim adalah Tuhan untuk seluruh alam. Kesan penemuan Tuhan oleh baginda tidak hanya berkesan duniawi, salah satunya membawa perubahan signifikan bagi sejarah kemanusiaan, tetapi juga berkesan kepada ukhrawi. Walaupun Tuhan sudah ditemukan: siapa dan bagaimana Dia, tetapi pertanyaan manusia tentang Tuhan tidak pernah hilang dari benaknya. Untuk itulah, Tuhan mengutus para nabi pada satu kurun waktu tertentu untuk memperkenalkan siapa diriNya. Diutuskan Nabi Muhammad s.a.w. menandai berakhirnya proses pengutusan tersebut kerana risalah yang baginda bawa adalah yang paling lengkap dan menjangkau semua dimensi kemanusiaan. Dengan demikian, risalah yang dibawa Rasulullah s.a.w. dengan Al-Quran sebagai panduannya adalah risalah yang paling lengkap dan paling terperinci dalan memperkenalkan Tuhan.
Mengenal Allah Melalui Asmaul Husna
Allah adalah Awwal dan Akhir segala sesuatu. Dialah yang paling tampak dari segala dan Dialah yang berada di belakang segala sesuatu. Allah sentiasa bersama manusia dimana pun ia berada (Qaf: 16) Kehadiran manusia hanyalah kerana kehadiranNya. Kebaikan manusia sesungguhnya kerana kebaikanNya, sebagaimana bunyi sebuah hadis, “Manusia adalah citra Illahi di bumi.” Lebih jauh, Ibnu Arabi mengungkapkan bahawa penciptaan alam semesta ini berserta semua kompenan di dalamnya, termasuk manusia adalah melalui tajalli (penampakan diri) Tuhan pada alam pengamatan yang serbaganda. Penampakkan diri Tuhan ini mengambil dua bentuk, iaitu penampakkan diri secara nyata yang mengambil bentuk penampakkan diri dalam citra alam semesta. Dari dua hakaikat penampakkan Tuhan ini, manusia tidak akan pernah mampu melihat penampakkan tajalli Zat dengan mata lahiriah. Allah Aza wa Jalla terlalu sempurna untuk itu. Mata lahiriah terlalu lemah untuk memandang Zat Allah. Jangankan memandang Allah, memandang sinar matahari saja sudah tidak sanggup. Jangankan Allah, memandang yang Allah, memandang yang agak jauh saja sudah kabur. Jangankan memandang Allah, memandang angin yang berhembus pun, yang jelas-jelas dirasakan kulit, tidak mampu. Jangankan memandang Allah, memandang kayu yang dicelupkan ke air salah, tampak bengkok, padahal tetap lurus. Mata lahir sangat lemah dan sering menipu.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Penemuan Nabi Ibrahim mampu membebaskan manusia dari perhambaan. Tuhan yang ditemukan Nabi Ibrahim adalah Tuhan yang melintasi suku, ras dan bangsa tertentu. Tuhan yang ditemukan Nabi Ibrahim adalah Tuhan untuk seluruh alam. Kesan penemuan Tuhan oleh baginda tidak hanya berkesan duniawi, salah satunya membawa perubahan signifikan bagi sejarah kemanusiaan, tetapi juga berkesan kepada ukhrawi. Walaupun Tuhan sudah ditemukan: siapa dan bagaimana Dia, tetapi pertanyaan manusia tentang Tuhan tidak pernah hilang dari benaknya. Untuk itulah, Tuhan mengutus para nabi pada satu kurun waktu tertentu untuk memperkenalkan siapa diriNya. Diutuskan Nabi Muhammad s.a.w. menandai berakhirnya proses pengutusan tersebut kerana risalah yang baginda bawa adalah yang paling lengkap dan menjangkau semua dimensi kemanusiaan. Dengan demikian, risalah yang dibawa Rasulullah s.a.w. dengan Al-Quran sebagai panduannya adalah risalah yang paling lengkap dan paling terperinci dalan memperkenalkan Tuhan.
Mengenal Allah Melalui Asmaul Husna
Allah adalah Awwal dan Akhir segala sesuatu. Dialah yang paling tampak dari segala dan Dialah yang berada di belakang segala sesuatu. Allah sentiasa bersama manusia dimana pun ia berada (Qaf: 16) Kehadiran manusia hanyalah kerana kehadiranNya. Kebaikan manusia sesungguhnya kerana kebaikanNya, sebagaimana bunyi sebuah hadis, “Manusia adalah citra Illahi di bumi.” Lebih jauh, Ibnu Arabi mengungkapkan bahawa penciptaan alam semesta ini berserta semua kompenan di dalamnya, termasuk manusia adalah melalui tajalli (penampakan diri) Tuhan pada alam pengamatan yang serbaganda. Penampakkan diri Tuhan ini mengambil dua bentuk, iaitu penampakkan diri secara nyata yang mengambil bentuk penampakkan diri dalam citra alam semesta. Dari dua hakaikat penampakkan Tuhan ini, manusia tidak akan pernah mampu melihat penampakkan tajalli Zat dengan mata lahiriah. Allah Aza wa Jalla terlalu sempurna untuk itu. Mata lahiriah terlalu lemah untuk memandang Zat Allah. Jangankan memandang Allah, memandang sinar matahari saja sudah tidak sanggup. Jangankan Allah, memandang yang Allah, memandang yang agak jauh saja sudah kabur. Jangankan memandang Allah, memandang angin yang berhembus pun, yang jelas-jelas dirasakan kulit, tidak mampu. Jangankan memandang Allah, memandang kayu yang dicelupkan ke air salah, tampak bengkok, padahal tetap lurus. Mata lahir sangat lemah dan sering menipu.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Sonan Bonang, Wali Yang Aktif Berkarya
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah anak Sunan Ampel (cucu Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik) dan Nyai Ageng Manila, puteri Adipati Tuban bernama Arya Teja. Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Bonang yang disebut juga Sayyid Kramat ini merupakan keturunan ke-13 dari Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad s.a.w. Sunan Bonang belajar agama dari pondok pesantren ayahnya di Ampel Denita. Setelah cukup dewasa, ia mengembara untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kendiri, yang majoriti masyarakatnya beragama Hindu. Disana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Setelah berselisih paham dengan Sultan Demak I, iaitu Raden Patah, Sunan Bonang mengundurkan diri sebagai Imam Masjid Kerajaan. Ia pindah ke desa Bonang dekat Lasem, sebuah desa yang kering kontang dan miskin. Atas dasar itulah, nama Bonang disematkan kepadanya. Di desa itu ia membangunkan tempat persujudan/zawiyah sekaligus pondok pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Meskipun demikian Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk mengembara ke daerah-daerah yang sangat sulit. Ia acapkali berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura mahupun Pulau Bawean. Di pulau inilah, para 1525 M ia meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.
Ada yang menyebutkan bahawa makam asli Sunan Bonang sebenarnya di desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di Kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua, kerana – kononnya - saat beliau meninggal dunia, khabar matinya sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Si murid sangat mengkaguminya sampai ingin membawa jenazahnya ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaiannya. Saat melalui Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazahnya. Mereka pun merebutkannya. Tak seperti Sunan Giri (saudaranya) yang mahir dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlusunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fizik, ushuludin, tasawuf, seni sastera dan arkitek. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang memiliki keahlian dalam bidang geologi. Ia banyak menggali sumber air dan telaga untuk perbekalan air penduduk dan untuk tali air pertanian tanah yang kering. Sunan Bonang juga mengajarkan cara membuat belacan, kerana di Bonang banyak terdapat udang-udang kecil untuk pembuatan belacan. Sampai kini belacan Bonang sangat terkenal, dan merupakan antara sumber penghasilan penduduk kampung yang cukup penting. Di kalangan ulama tertentu peranan Sunan Bonang mungkin dianggap tidak begitu menonjol dibanding wali-wali yang lain. Tetapi apabila kita mengamati manuskrip-manuskrip Jawa lama peninggalan zaman Islam yang terdapat di Muzium Batavia (sekarang dipindah ke Perpustakaan Nasional), justeru Sunan Bonang yang meninggalkan warisan karya tulis paling banyak, berisi pemikiran paling banyak, berisi pemikiran keagamaan dan budaya bercorak sufistik. Karya-karya yang diciptakan oleh Sunan Bonang banyak yang berupa suluk. Diantaranya sebagaimana disebut B Schrieke (1913), Purbatjaraka (1938), Pigeaud (1967), Drewes (1954,1968 dan 1978) ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewah, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain. Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan She Bari. Suluk Wujil Sunan Bonang banyak dipengaruhi oleh kitab Al-Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (meninggal dunia pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Ada yang menyebutkan bahawa makam asli Sunan Bonang sebenarnya di desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di Kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua, kerana – kononnya - saat beliau meninggal dunia, khabar matinya sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Si murid sangat mengkaguminya sampai ingin membawa jenazahnya ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaiannya. Saat melalui Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazahnya. Mereka pun merebutkannya. Tak seperti Sunan Giri (saudaranya) yang mahir dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlusunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fizik, ushuludin, tasawuf, seni sastera dan arkitek. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang memiliki keahlian dalam bidang geologi. Ia banyak menggali sumber air dan telaga untuk perbekalan air penduduk dan untuk tali air pertanian tanah yang kering. Sunan Bonang juga mengajarkan cara membuat belacan, kerana di Bonang banyak terdapat udang-udang kecil untuk pembuatan belacan. Sampai kini belacan Bonang sangat terkenal, dan merupakan antara sumber penghasilan penduduk kampung yang cukup penting. Di kalangan ulama tertentu peranan Sunan Bonang mungkin dianggap tidak begitu menonjol dibanding wali-wali yang lain. Tetapi apabila kita mengamati manuskrip-manuskrip Jawa lama peninggalan zaman Islam yang terdapat di Muzium Batavia (sekarang dipindah ke Perpustakaan Nasional), justeru Sunan Bonang yang meninggalkan warisan karya tulis paling banyak, berisi pemikiran paling banyak, berisi pemikiran keagamaan dan budaya bercorak sufistik. Karya-karya yang diciptakan oleh Sunan Bonang banyak yang berupa suluk. Diantaranya sebagaimana disebut B Schrieke (1913), Purbatjaraka (1938), Pigeaud (1967), Drewes (1954,1968 dan 1978) ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewah, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain. Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan She Bari. Suluk Wujil Sunan Bonang banyak dipengaruhi oleh kitab Al-Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (meninggal dunia pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2010 di pasaran...
Subscribe to:
Posts (Atom)
+VSJulai30-6501.jpg)
VSJulai+2-2901.jpg)
VSJulai+2-2902+copy.jpg)
VSJulai+2-2903+copy.jpg)
VSJulai+2-2907.jpg)
VSJulai+2-2911.jpg)
VSJulai+2-2915+copy.jpg)
VSJulai+2-2917+copy.jpg)
VSJulai+2-2923.jpg)

