Wednesday, June 6, 2012

Yang Perlu Diketahui Ketika Berpuasa

UMAT Islam akan mengerjakan satu ibadat yang paling mencabar jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Maksud ibadah yang paling mencabar itu ialah “Ibadah Puasa”. Ia merupakan ibadah yang penuh dengan ujian. Apa tidaknya, dalam masa orang bukan Islam makan minum di siang hari, kita diperintahkan untuk tidak makan bermula dari waktu fajar hingga matahari terbenam. Ini adalah syariat. Sebagai umat Islam, kita wajib mematuhi syariat. Mereka yang melanggar syariat, hukumnya berdosa besar. Puasa adalah satu dari rukun Islam yang disyariatkan oleh Allah kepada kita. Sebelum kita pun, umat-umat sebelum kita pun sudah menjalani ibadah puasa. Cuma cara atau pun khafiatnya berlainan dengan apa yang disyaratkan kepada umat Nabi Muhammad s.a.w. Dalam kita menghadapi ibadah puasa ini, kita berdepan dengan beberapa masalah yang berkait dengan puasa itu yang kita tahu, dan ada yang tidak tahu. Saya telah mengutip beberapa bab yang saya rasa sangat releven dengan puasa ini. Bab ini berupa soal jawab yang ada dimusykilkan oleh ramai orang berhubung dengan ibadah ini. Seorang ulama terkenal dari Timur Tengah telah menjawab semua soalan yang dikemukakan. Kitab tersebut yang ditulis dalam bahasa Arab, kemudian atas usaha ulama-ulama kita dari Indonesia telah menterjemahkannya dalam bahasa Melayu. Diantara perkara atau pun masalah-masalah yang ditanyakan ialah berkait  dengan “hukum puasa sunnah dibulan Syaaban”, bermimpi basah ketika berpuasa, berpuasa dalam keadaan hamil, Bilakah waktu untuk berbuka puasa, bolehkah menangis ketika berpuasa. Ada pertanyaan yang memang sering berlaku kepada kita yang sedang berpuasa. Hal itu ialah mengenai sikap kita yang suka marah-marah (panas baran).

PUASA SUNNAH DI BULAN SYAABAN

Soal: Benarkah makruh hukumnya berpuasa sunnah setelah tarikh 15 Syaaban, sekalipun hanya puasa-puasa Isnin-Khamis atau puasa qadha’? Bagaimana halnya walau di akhir Syaaban?
Jawab: “Tidak benar. Rasulullah s.a.w. paling banyak berpuasa di bulan Syaaban. Wajib membayar qadha’ puasa wajib, sebelum masuk bulan Ramadan berikutnya, walau di akhir Syaaban.”

BERMIMPI BASAH
Soal: Sebelum tidur, saya bermimpi basah. Setelah sahur saya mandi bersih. Selesai solat subuh, saya kembali tidur. Tanpa disedari, saya bermimpi basah lagi. Apakah saya boleh melanjutkan puasa saya?
Jawab: “Anda boleh melanjutkan/meneruskan puasa.”

KEADAAN HAMIL
Soal: Saat ini, saya sedang hamil satu bulan. Menurut doktor, saya cukup kuat untuk berpuasa dengan penjagaan khusus. Tetapi bagaimana seandainya saya merasa tidak kuat, kerana kini saya sering pusing/pening dan mual-mual? Bolehkah saya tidak berpuasa dengan membayar fidyah? Atau haruskah saya membayar fidyah dan mengganti puasa sekaligus?
Jawab: Sebaiknya anda cuba berpuasa dengan mengikuti saranan doktor. Sebab, siapa tahu nafsu dan syaitan melemahkan semangat anda. Jika ternyata anda memang tidak mampu, maka anda boleh tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain tanpa harus membayar fidyah - menurut semua mazhab-kerana yang anda khuatirkan adalah diri anda sendiri. Jika yang anda khuatirkan adalah janin yang anda kandung saja, maka anda harus mengganti puasa yang anda tinggalkan dan membayar fidyah berupa memberi makan seorang miskin sebanyak hari anda tidak berpuasa. Yang demikian ini adalah pandangan mazhab Syafi’i dan Hambali.

WAKTU BERBUKA
Soal: Ada dua pertanyaan yang ingin saya sampaikan. Pertama, dalam al-Quran dinyatakan:...kemudian sempurnakan puasa itu hingga malam hari,..(QS. al-Baqarah: 187). Apakah berbuka puasa itu sampai datangnya malam (gelap)? Sejauh pengetahuan saya, ada hadis yang menyatakan bahawa berbuka puasa hendaklah disegerakan bila sudah tiba waktunya, yakni maghrib. Pendapat mana yang harus diikuti?
Kedua, saya adalah seorang pegawai ‘Aircrew’. Saya bekerja di luar negeri dengan mengikuti pesawat. Saya menghadapi kesulitan sewaktu akan berbuka. Jika saya terbang dari Jakarta menuju Abu Dhabi pada kira-kira pukul 5.30,  maka sekitar 45 minit lagi saya akan boleh berbuka puasa. Namun, kerana sepanjang perjalanan saya masih melihat matahari, saya pun mempertahankan puasa saya dan menunggu hingga saya yakin bahawa matahari sudah terbenam, maka boleh tiga atau empat jam lagi saya baru berbuka puasa. Jika saya mengikuti waktu Jakarta, maka saya  hanya menunggu 45 minit untuk berbuka puasa, padahal ketika itu matahari belum terbenam (bagi saya yang ada di pesawat).
Jawab: Ikutilah keduanya, yakni al-Quran dan Hadis Nabi. Yang dimaksudkan dengan malam dalam ayat di atas adalah saat matahari terbenam dan gelap mulai menyelubungi angkasa. Saat itu adalah saat Maghrib. Bukankah kegelapan malam tiba di waktu Maghrib? Jadi, hadis itu menjelaskan maksud kata “malam”.
Dalam keadaan seseorang berada di sesuatu tempat yang tidak normal  atau dalam perjalanan panjang yang nenimbulkan kesulitan baginya, maka waktu puasanya diukur dengan waktu puasa daerah normal yang terdekat dengannya atau diukur dengan panjangnya waktu puasa di Makkah atau Madinah.
Demikian fatwa Mufti Mesir, Jadd Al-Haqq. Untuk kes anda, kerana jumlah jam puasa anda akan sangat panjang sehingga menyulitkan anda, maka dalam perjalanan pesawat, melainkan dengan memperkirakan jam puasa anda di Jakarta. Tentu saja, ini tidak berlaku, misalnya, jika anda terbang dari Jakarta menuju Medan atau Ujungpadang. Sebab, jam puasa anda yang bertambah itu masih dalam batas normal dan tidak menyulitkan.

Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Ucapan Salam Tersebar Sebelum Adam a.s.Turun Ke Bumi

HENDAKLAH kita ketahui bahawa ucapan salam itu telah tersebar lama sebelum Nabi Adam a.s. turun ke atas muka bumi ini. Abu Hurairah r.a., mengatakan, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah telah menciptakan Nabi Adam a.s. dengan bentuk yang panjang (tinggi)nya 60 hasta. Tatkala Nabi Adam a.s. sudah tercipta, Allah berfirman: “Pergilah dan berilah ucapan salam kepada para malaikat yang duduk, dan perhatikan penghormatan apa yang mereka berikan padamu, kerana itu merupakan penghormatan kepadamu dan kepada anak cucumu (kelak). Lalu Nabi Adam a.s. (menghampiri para malaikat) dan mengucapkan: ‘Assalaamu’alaikum’. Mereka (para malaikat) menjawab: “Assalamu’alaika wa rohmatulloohu”. Kata Warohmatullohi’ yang ditambahkan para malaikat itu bererti: “semoga Allah memberi rahmat kepadamu.” (Muttafaq ‘Alaih). As Salam salah satu nama Allah s.w.t.: Ibnu Mas’ud r.a. menyatakan, Rasulullah s.a.w. bersabda: “As Salam termasuk salah satu nama Allah Taala yang diletakkan Allah di bumi, maka sebarkanlah dia. Kerana apabila orang muslim melewati sekelompok orang, lalu ia memberi salam kepada mereka, maka ia memiliki kelebihan satu darjat di atas mereka dengan mengingatkan salam kepada mereka. Jika mereka tidak menjawabnya, maka ia dijawab oleh yang lebih baik dari mereka (yakni para malaikat)”. (HR. Al Bazzar dan Baihaqi)


Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Tongkat Musa Berubah Menjadi Ular

SETELAH meninggalkan Mesir selama 10 tahun, Nabi Musa a.s. kembali ke negeri itu dengan membawa pesan Ilahi. Ia diperintah Allah menyampaikan risalah kepada Firaun. Dengan ditemani Nabi Harun, Musa memasuki istana. “Musa?” ujar Firaun terkejut sebab lama tak bertemu. “Akhirnya kau datang.” “Ya, aku datang kepadamu dengan membawa kebaikan dunia dan akhirat.” Jawapan Musa membuat wajah Firaun berubah. Dengan bongkak dan sombongnya, ia mengolok-olok Musa. “Apa? Kau kembali padaku dengan membawa kebaikan dunia dan akhirat? Kebaikan apa? Dari mana kau mendapat kebaikan itu hingga kau berani membawanya padaku?” “Dari sisi Allah. Dan aku datang sebagai utusan Allah untuk mengajakmu supaya menyembah kepadaNya,” jawab Musa dengan santun. Firaun bangkit dari singgahsananya, melangkah sejenak dan berhenti, “Sejak dulu kau tak beriman kepadaku, Musa.” Sunyi menyelimuti istana. “Dan kamu selalu mengingkariku, bahkan tidak sehari pun kau pernah mengakui diriku sebagai tuhan. Padahal, seluruh rakyat mengakuiku sebagai tuhan,” ujar Firaun seraya mundar-mandir. Sesekali, memandangi lukisan yang ada di dinding istana. “Apa kau tidak percaya dengan ketuhananku?” “Aku beriman hanya kepada Allah, Tuhan semesta alam.” “Siapa Tuhan semesta alam itu?” “Tuhan langit dan bumi, serta segala yang ada di antara keduanya. Itu jika kalian benar-benar meyakini.” Firaun menoleh ke arah sekitar, ke wajah tokoh kerajaan, menteri-menteri dan panglima-panglimanya. “Tidaklah kalian dengar?” Dan Musa berkata, “Dialah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu.” Rupanya, perkataan Musa itu membuat Firaun murka. Maka, ia pun mengejek, “Sesungguhnya Rasul yang telah diutus kepada kalian ini seorang gila.” Hamam, orang kepercayaan Firaun membungkuk, lalu berkata, “Perlukah aku suruh orang-orangku untuk mengusir Musa?” “Tak perlu,” jawab Firaun. “Kita belum mendengar ucapannya yang lain. Musa menyeruku kepada Allah dan aku menolak seruan itu. Apa yang ingin kau sampaikan lagi, Musa?”
“Tidak banyak. Apa yang ingin aku sampaikan sebenarnya tak lebih agar engkau mengamati ayat-ayat Allah di alam ini. Allah menciptakan segalanya. Apa ada di antara kita yang mampu mengatur arah gerakan awan dan menurunkan hujan? Apakah ada di antara penguasa di bumi ini yang mampu mengeluarkan segala sesuatu berpasangan dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan? Allah menciptakan kita dari tanah dan kita akan kembali kepadaNya setelah mati, dan kemudian dari sana kita dibangkitkan.” Firaun kian panas. “Ooo,... ini masalah yang lain lagi. Tinggalkan masalah ini, dan mari kita lihat permasalahanmu” “Permasalahan apa?”
“Kamu telah membunuh seorang warga Mesir lalu meninggalkan Mesir. Disebut apa itu dilihat dari sudut hukum?’ “Melawan pemerintah yang berdaulat,” jawab Hamam. Seraya menoleh ke arah Hamam, Firaun berkata “Apa hukuman untuk orang mengakui Tuhan selainku?” “Dipenjara seumur hidup,” jawab Hamam. Firaun lalu melangkah ke arah Musa. “Jika kau mengakui Tuhan selainku, akan kubuat engkau bergabung dengan mereka yang sedang terseksa di penjara.” “Bagaimana kalau aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata?” Musa secara terang-terangan mencabar Firaun. Firaun bertegas, “Datangkanlah jika memang engkau termasuk orang yang benar.” Musa mundur dan melemparkan tongkat di tangannya. Firaun mengira, Musa mundur kerana takut. Ia mengira tongkat itu terjatuh tak sengaja. Tapi ketika tongkat itu berubah jadi ular, menjulurkan lidahnya, Firaun terkejut dan gempar. Wajah Firaun ketakutan. Ia ingin berkata-kata, tapi lidahnya terkunci. Semua orang terdiam, hanya menatap ular itu dengan gementar. Ketika ular itu kembali jadi tongkat, mereka kembali boleh berkata-kata. “Tuanku, ini tipu daya para penyihir. Di Mesir, ada berpuluh penyihir yang juga sanggup mengubah tongkat jadi ular,” ujar Hamam. Tapi Musa membantah. “Apa yang kau lihat itu bukan tipu daya. Ini adalah ayat dari Allah untukmu, dan ini masih ada ayat kedua.” Musa kemudian mengapitkan tangannya di bawah lengannya lalu mengeluarkan lagi. Setelah itu, keluar cahaya yang sangat terang. Cahaya itu jatuh di lantai marmar dan warnanya semakin terang. Firaun tahu itu mukjizat. Tapi, ia lebih mementingkan kekuasaannya. Akhirnya ia bertanya, “Musa, apa yang kau inginkan dari kami?” “Aku ingin engkau biarkan Bani Israil keluar bersamaku dan jangan seksa mereka lagi.” “Hai Musa, pertemuan ini kita anggap usai. Sekarang pulanglah.

Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Bila Makmum Dapatkan Rakaat Imam?

DIDALAM solat jemaah, ada makmum yang sejak awal mengikuti imam hingga boleh membaca al-Fatihah, tetapi kadang-kadang tidak sedikit pula makmum yang tertinggal bacaaan Fatihahnya oleh imam (masbuq). 
Untuk kategori makmum yang sempat membaca al-Fatihah lalu mengikuti rukun selanjutnya memang sudah dikategorikan telah mendapat rakaatnya imam. Tetapi, bagi mereka yang ketinggalan, ertinya begitu takbir sudah menjumpai imam sedang rukuk, apakah masih digolongkan mendapatkan satu rakaat atau tidak?
Hitungan mendapati rakaat atau tidak ini akan berpengaruh pada jumlah rakaat yang dilakukan makmum. Sebab bila dianggap masih mendapati, maka makmum tidak perlu menambahi rakaat setelah imam bersalam. Sebaliknya, bila terhitung tidak mendapatkan rakaat, maka ada keharusan menambahi rakaat setelah imam salam. Oleh kerana itu penting mengetahui hal ini agar mendapatkan ketenangan dalam menjalankan ibadah sekaligus terhindar dari keraguan. Memang masalah ini masuk wilayah khilafiyah [perbedaan pendapat]. Tetapi kita tidak usah kebingungan jika sudah mendapatkan pemaparan yang jelas dan terang.

Dua Pendapat
Baiklah, kita mulai dari pendapat pertama. Kelompok ini cenderung mengatakan bahawa al-Fatihah mutlak harus dibaca imam mahupun makmum bila dalam keadaan berjemaah. Kerana itu ketika seorang makmum belum sempat membaca al-Fatihah saat menyusul imam sedang rukuk, sebenarnya makmum seperti ini belum mendapatkan rakaatnya. Ertinya setelah imam salam, makmum ini harus menambah jumlah rakaatnya yang tertinggal. Kalau pun ada hadis yang bicara bahawa bila makmum masih mendapati rukuknya imam dihitung masih mendapatkan rakaat, menurut pendapat pertama ini, kedudukan hadis tersebut lemah, entah itu di bahagian sanad mahupun matannya. Dalil yang kuat adalah riwayat dari Qatadah bahawa Nabi s.a.w. suka membaca al-Fatihah pada setiap rakaat (HR. Termizi). Selain itu ada hadis lagi dari Abu Hurairah bahawa Nabi s.a.w. bersabda, “Apabila kamu mendengar iqamat, pergilah solat dan kamu mesti tenang, tidak bergopoh gapah dan tidak terburu-buru, apa yang didapati bersama imam, solatlah, apa yang ketinggalan dari imam, maka sempurnakanlah” (HR. Jamaah). Menurut Imam Hafizh dalam Kitab al-Baari, hadis di atas dapat dijadikan dalil bahawa orang yang mendapatkan imam sedang rukuk tidak dihitung rakaat, kerana ada perintah untuk menyempurnakan apa-apa yang ketinggalan, sedangkan dalam hal ini jelas makmum ketinggalan (tidak ikut berdiri dan membaca al-Fatihah). Adapun pendapat kedua berasal dari jumhur ulama. Mereka mengatakan bahawa seorang makmum yang masih mendapati rukuknya imam, dia masih mendapatkan rakaat imam. Katakanlah ketika makmum baru datang dan berada di shaf tetapi belum sempat membaca al-Fatihah, tiba-tiba imam sudah rukuk. Apabila dia langsung menyusul rukuk sebelum imam iktidal, maka makmum seperti ini dianggap masih mendapatkan rakaat imam. Banyak hadis yang berbicara masalah ini – meskipun di antara hadis-hadis tersebut dianggap lemah oleh kelompok pertama. Umumnya jumhur ulama mengatakan asalkan seorang makmum dapat ikut rukuk bersama imam, makmum tersebut sudah mendapatkan satu rakaat. Dalilnya yang shahih adalah sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Apabila kamu datang ke (masjid untuk) solat berjemaah, sedangkan kami dalam keadaan sujud, maka sujudlah, namun janganlah kamu menghitungnya sebagai satu rakaat, barang siapa yang mendapatkan rukuk bersama imam, maka ia mendapatkan solat dengan 1 rakaat tersebut”. Para ulama mencarikan titik temu di antara dalil-dalil yang ada yang mungkin dianggap saling bertentangan, seperti dalil tentang sah tidaknya solat tanpa bacaan al-Fatihah dan dalil sekitar bacaan al-Fatihah imam yang sudah cukup menjadi penanggung buat makmumnya. Setelah mempertimbangkan semua dalil, para ulama menyimpulkan bahawa bila seorang makmum sempat ikut rukuk sejenak bersama imam, maka dia telah mendapat satu rakaat. Mazhab Syafi’iyah sedikit memberi catatan, asalkan makmum masih sempat menyusul imam dan berthuma’ninah bersama imam sekali pun sebelumnya tidak sempat membaca Fatihah atau menyelesaikan Fatihahnya, makmum ini masih tergolong mendapatkan satu rakaat. Tetapi kalau tidak boleh thuma’ninah, rakaat yang seperti ini tidak terhitung. Kerana itu, makmum ini wajib menambah rakaat setelah imam salam.

Soal Bacaan Al-Fatihah
Membaca al-Fatihah memang termasuk rukun solat. Kerana rukun solat, siapa saja yang solat namun tidak membaca al-Fatihah, maka solatnya dianggap tidak sah. Ini dikuatkan sebuah hadis dari Ubadah bin Shamit yang mengkhabarkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tidak sah solat orang yang tidak membaca ummul Quran (al-Fatihah)” (HR. Muslim). Bila kita kembali kepada penjelasan dari pendapat jumhur ulama di atas, ketentuan ini serasa bertolak belakang dengan keterangan bahawa makmum yang tidak sempat membaca al-Fatihah namun boleh menyusul imam yang sedang rukuk, makmum tersebut terhitung sudah mendapatkan rakaat. Memang kalau berhenti di situ, ada kesan tidak jelas di antara keduanya. Tetapi ada dalil yang boleh mempertemukan keduanya, yakni sebuah hadis yang menjelaskan bahawa bacaan imam sudah cukup bagi makmum, sehingga ketika makmum tidak membaca ummul kitab itu, hukumnya sudah sah. Hadis itu berasal dari Jabir yang berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Barang siapa yang mempunyai imam, maka bacaan imam menjadi bacaannya juga.” (HR. Ahmad) Tetapi, bagi imam atau orang yang solat sendirian berkewajipan membaca al-Fatihah. Namun, bagi makmum (dalam solat berjemaah) tidak perlu membacanya, kerana bacaan imam sudah menjadi bacaan bagi makmum.

Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Pesan Rasulullah s.a.w.: Selepas Kencing

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, katanya: “Kami berjalan bersama Baginda Rasululullah, lalu kami melalui dua kuburan, lalu baginda berhenti dan kami pun ikut berhenti. “Tiba-tiba baginda gementar sehingga nampak pada lengan bajunya, kemudian kami pun bertanya: “Kenapa jadi begini ya Rasulullah? Baginda menjawab: “Tidakkah kamu mendengar apa yang telah kudengar? Kami bertanya lagi: “Apakah yang sedang anda dengar itu? Baginda menjawab: “Dua lelaki yang ada didua kubur ini sedang diseksa kerana meringan-ringankan hal yang sememangnya penting.” Kami bertanya ingin tahu: “Apakah dosa yang dilakukan Ya Rasulullah? Baginda menjawab: “Salah seorang tidak beristinjak (menyuci) bila kencing, sedangkan seorang lagi suka menyakiti hati orang lain dengan kata-kata, dia suka menyebarkan fitnah. “Kemudian Baginda berdoa sambil memegang dua pelepah kurma yang kemudian di letakkan di atas kuburan keduanya itu, kami pun bertanya: “Adakah daum kurma ini boleh mendatangkan keringanan bagi mereka? Baginda Rasul menjawab: “Benar seksaan yang diterimanya akan diringankan selagi daum kurma itu belum kering.”
Penjelasannya bahawa ada pun yang dimaksudkan dengan istinjak ialah membersihkan badan dari najis, sama ada dilakukan dengan air bersih, atau dengan benda keras seperti batu, kayu dan seumpamanya.

MELAMBATKAN MANDI WAJIB
Baginda Rasulullah s.a.w. bersabda yang ertinya: “Terdapat tiga golongan manusia yang tidak dihampiri para malaikat, iaitu orang yang sedang berjunub. Orang yang mabuk. Orang yang dilumuri Za’faran.” (Riwayat Al-Bazzar) Sebuah lagi hadis Nabi s.a.w. yang ertinya: “Diriwayatkan daripada Ali k.w. bahawa Baginda Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barang siapa yang tidak membasahi sehelai rambut tubuhnya ketika mandi junub, maka diseksa kerananya dalam neraka.” Ali (seterusnya) berkata: “Kerana itu aku bermusuhan dengan rambut dikepalaku.” Justeru Ali selalu memotong rambutnya. Penjelasannya bahawa wajib mandi ke atas orang yang sedang berjunub. Mandi junub itu adalah membasahkan seluruh tubuh dengan air tanpa ada pengecualian. Dengan demikian tidak terkecuali rambut, kuku dan selainnya. Sedangkan wanita yang bersanggul, hendaklah menghuraikan sanggulnya agar air dapat masuk ke dalamnya. Begitu juga bahagian luar (zahir) kuku.

LEWATKAN WAKTU SOLAT
Rasulullah s.a.w. bersabda yang ertinya: “Awal waktu adalah kesukaan Allah. Pertengahan waktu adalah rahmatnya, dan diakhir waktu adalah maqhfirah dan keampunan Allah yang maha mulia dan Maha Agung.” (Riwayat Ahmad) Penjelasannya adalah bahawa bersegera pergi mengerjakan sembahyang pada awal waktu adalah sunat, sedangkan melambat-lambatkan sembahyang hingga habis waktunya adalah haram.

SUNAT SUBUH
Rasullullah s.a.w. bersabda, ertinya: “Sembahyang dua rakaat (subuh) lebih utama daripada dunia dan segala isinya.” (hadis riwayat Muslim dan Termizi) Penjelasannya bahawa adalah disunatkan sembahyang sunat dua rakaat sebelum menunaikan sembahyang subuh. Sebagai sembahyang sunat, maka disunatkan pula mengerjakannya dengan ringkas. Dengan kata-kata lain tidak disuruh  membaca ayat yang panjang, tetapi memadailah ayat yang pendek-pendek. Bahkan disunatkan membaca surah al-Ikhlas pada rakaat pertama, dan surah al- Kafirun pada rakaat kedua. Alangkah besar pahala yang akan diperolehi oleh orang yang sembahyang sunat sebelum subuh ini.

SUNAT ZUHUR
Nabi s.a.w. bersabda yang ertinya: “Sesiapa yang mengerjakan (sembahyang sunat) empat rakaat sebelum zuhur, dan empat rakaat pula sesudahnya, maka diharamkan Allah neraka kepadanya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Termizi dan Nasa’i) Penjelasannya ialah sebelum menunaikan sembahyang zuhur yang sudah tiba waktunya disunatkan mengerjakan sembahyang sunat ini ialah dengan satu takbiratul ihram dan sekali salam.
Namun lebih afdal lagi jika dikerjakan dua-dua rakaat. Ini bererti dua takbiratul ihram dan dua salam pula.

SUNAT 4 RAKAAT
Baginda Rasulullah s.a.w. bersabda yang ertinya: “Sesiapa sembahyang empat rakaat sebelum asar, Allah mengharamkan dia masuk neraka.” Penjelasan sunat mengerjakan sembahyang sunat sebelum sembahyang asar. Tetapi diharamkan sembahyang sunat sesudah asar kecuali sembahyang (tidak mempunyai sebab tertentu) secara tiba-tiba datang jenazah yang akan disembahyangkan.

Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Mengapa Bani Israil Dikutuk Oleh Allah s.w.t.?

Surah Al-Isra’ diberikan nama AL-ISRA’ kerana dimulai dengan keterangan tentang Isra’ Nabi Muhammad s.a.w. dan mengandungi hal-hal yang erat hubungannya dengan peristiwa-peristiwa itu, hal-hal penting yang diperlihatkan oleh ALLAH kepada Rasulullah s.a.w., di antaranya:

1. Tentang MASJID-MASJID PALING UTAMA, iaitu:
a. Masjidil Haram, masjid yang melingkari Kaabah, bangunan paling penting di alam dunia ini, dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. yang kemudian menjadi “KIBLAT” tempat kaum muslimin mengadapkan diri pada waktu solat, menjadi tempat bertawaf bagi para jemaah haji dari seluruh penjuru  dunia. Tempat yang  selamanya “penting” bagi dunia. Bahkan pada zaman jahiliah pun dihormati dan dianggap penting. Tak ada bangunan di dunia ini yang demikian besar peranannya seperti Kaabah dengan Masjidil Haram-nya. Ratusan juta manusia, lima kali setiap hari menghadapnya, jutaan manusia tiap tahun mengunjunginya. Menarik dan mempersatukan sekian ratus juta manusia, tidak hanya secara sekali-sekala, tetapi terus menerus sepanjang zaman.
b. Masjidil Aqsha di Palestin yang dibangun pada zaman Nabi Sulaiman a.s. yang menjadi “terminal transit” antara Israk dengan Mikraj, antara alam dunia dengan alam langit. Di sekitar tempat itu, tidak terhitung jumlahnya para nabi/rasul diangkat oleh Allah s.w.t. di sekitarnya, menjadi tempat “tumpuan kepentingan” sepanjang sejarah. Tidak pernah sepi dari peristiwa penting sepanjang zaman, terus bergolak. Timur Tengah selalu menjadi pelaku sejarah!
c. Masjid Nabawi di Madinah, meskipun pada zaman Israq Mikraj belum dibina, tetapi sudah dibayangkan akan menjadi pentingnya kota Madinah dengan persinggahan yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. di Yatrib (yang kemudian, dua tahun lagi menjadi Madinah Munawwarah = Kota Gemilang)
Masjid, dalam Agama Islam bukanlah hanya sekadar tempat solat tetapi melambangkan keseluruhan agama Islam. Lambang pasang surutnya agama Islam, lambang kewibawaan Islam. Masjid adalah jantung kehidupan Islam!
2. Tentang  Alam Arwah (Roh), yang selalu menjadi titik penyelidikan, tetapi tidak pernah mencapai sasaran yang sebenarnya. Apakah roh itu “nyawa” yang menjadikan “jasad” menjadi hidup? Apakah roh itu “jiwa” dengan segala kecenderungan sebagaimana dapat dipelajari dengan ilmu jiwa (psychology)? Apakah roh itu “psycho”? Apakah roh itu “sel-sel otak” yang berproses?? Wallaahualam! Allah s.w.t. berfirman: Mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah” “Roh adalah termasuk urusan Tuhanku (sendiri). Dan kamu sekalian tidak di beri ilmu pengetahuan, kecuali sedikit, (Al-Isra’ ayat: 85) Dalam Israk Mikraj, Rasulullah s.a.w. telah masuk ke alam arwah itu, baginda bertemu dengan arwah para nabi/rasul, bahkan baginda dipersilakan menjadi imam solat, sedangkan makmumnya ialah para  (arwah) nabi/Rasul.
3. Tentang manusia, bahkan manusia ini menjadi “objek utama” dari teropong Israk Mikraj ini, kerana peranannya yang besar di antara makhluk-makhluk lainnya. manusia memikul “taklif”, memikul beban kewajipan, dengan mendapat hak balasan pahala dan mendapat ancaman balasan seksa. Bukan hanya beban mengatur diri sendiri, tetapi mengatur sesama manusia (masyarakat) dengan lingkungannya (alam), sebagai khalifah.
4. Tentang solat, yang menjadi “inti” dari Israq Mikraj ini solat, adalah langkah pertama dan terutama di dalam pembinaan manusia seutuhnya. Ayat 78 dan 79 dari Surah Al-Isra’ menyebutkannya: Dirikanlah olehmu solat kerana (pada waktu) matahari condong ke barat sampai menghadapi kegelapan malam (Zuhur, Asar, Maghrib dan Isya) dan Quran fajar (solat subuh), kerana solat subuh itu disaksikan (oleh malaikat malam dan malaikat siang). Di tengah malam, lakukanlah solat Tahajjud padanya sebagai tambahan kebajikan bagimu dari yang diwajibkan (minimum harus dilakukan), semoga Tuhanmu menempatkan kamu pada kedudukan terpuji. Solat lima waktu ,adalah kewajipan minimum yang terus menerus tak terputus, tidak ada hari cuti tidak ada kelonggaran untuk meninggalkan selama orang masih belum “ditinggalkan” oleh kesedaran akal. Kalau ada kesulitan melakukannya secara normal, maka ada keringanan melakukannya secara darurat. Diberi nama surah Bani Israil kerana berisi banyak sekali hal-hal mengenai Bani Israil, salah satu kaum di antara bangsa-bangsa di dunia ini, keturunan dari salah seorang putera Nabi Nuh a.s, (Sam), melalui Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Ya’qub dan seterusnya. Yang melalui Nabi Ismail a.s. seterusnya menurunkan Kaum Quraisy, Bani Hasyim, Nabi Muhammad s.a.w. dan seterusnya. Mereka umumnya “memisahkan diri” menjadi Bani Israil, mula dari salah seorang putera Nabi Ya’qub a.s. Pada mulanya mereka, Bani Israil ini mendapat kedudukan istimewa dari Allah s.w.t. sebagaimana firman Allah pada ayat 47 Surah al-Baqarah: Wahai Bani Israil! Ingatlah kamu sekalian atas nikmat-Ku yang Aku telah kurniakan atasmu sekalian dan Aku melebihkan kamu sekalian (nenek moyangmu) atas manusia sealam (pada zamannya). Tetapi, kerana kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, maka generasi-generasi akhir dari mereka, menjadi manusia paling dikutuk oleh Allah. Ayat tersebut di atas (dan ayat-ayat lain seperti itu) pada hakikatnya mengandungi “umpatan” Allah kerana (generasi akhir) sudah melupakan nikmat Allah itu.

Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Hikmah Setiap Solat 5 Waktu

Ali bin Abi Talib r.a berkata: “Sewaktu Rasulullah s.a.w.. duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata: “Ya Muhammad, kami hendak tanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa a.s. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.” Lalu Rasulullah s.a.w.. bersabda: “Silakan bertanya.” Berkata orang Yahudi: “Sila terangkan kepada kami tentang 5 waktu wajibkan oleh Allah ke atas umatmu.” Sabda Rasulullah s.a.w.. “Sembahyang Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada tuhanNya. ”Sembahyang Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam a.s. memakan buah Khuldi. ”Sembahyang Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam a.s. maka setiap mukmin yang bersembahyang Maghrib dengan ikhlas kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya. ”Sembahyang Isyak itu ialah sembahyang yang dikerjakan oleh para Rasul-Rasul sebelumku. ”Sembahyang Subuh adalah sebelum terbit matahari, ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya tiap orang kafir.” Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasulullah s.a.w.. mereka berkata: “Memang benar apa yang kamu katakan itu. Muhammad, katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan didapati oleh orang yang sembahyang?” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jagalah waktu-waktu sembahyang terutama sembahyang yang pertengahan, sembahyang Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam, orang mukmin yang mengerjakan sembahyang pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya wap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.” Sabda Rasulullah s.a.w.. lagi: “Manakala sembahyang Asar, adalah saat dimana Nabi Adam a.s. memakan buah Khuldi. Orang mukmin yang mengerjakan sembahyang Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.” Setelah itu Rasulullah s.a.w.. membaca ayat yang bermaksud: “Jagalah waktu-waktu sembahyang terutama sekali sembahyang yang pertengahan., sembahyang Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam A.S. diterima. ”Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan sembahyang Maghrib kemudian meminta sesuatu dari Allah maka Allah akan perkenankan. Sabda Rasulullah s.a.w..
“Sembahyang Isyak. Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan sembahyang Isyak berjemaah, Allah s.w.t. haramkan dari terkena nyalanya api neraka dan diberinya cahaya untuk menyeberangi titi sirath.” Sabda Rasulullah s.a.w..,  “Sembahyang Subuh pula, seorang mukmin yang mengerjakan sembahyang subuh selama 40 hari secara berjemaah, diberi oleh Allah s.w.t. dua kebebasan iaitu:
1. Dibebaskan dari api neraka
2. Dibebaskan dari nifaq.” Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasulullah s.a.w.. maka mereka berkata: “Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (s.a.w.)”

Balasan baik jika muliakan tetamu

Dikisahkan bahawa ketika berlakunya kekurangan makanan dalam kalangan Bani Israil, maka lalulah seorang fakir menghampiri rumah seorang kaya dengan berkata: “Sedekahlah kamu kepadaku dengan sepotong roti dengan ikhlas kerana Allah.” Setelah fakir itu berkata demikian, maka keluarlah anak gadis orang kaya, lalu memberikan roti yang masih panas kepadanya. Sebaik gadis itu memberikan roti itu, maka keluarlah bapa gadis berkenaan yang bakhil terus memotong tangan kanan anak gadisnya hingga putus.
Sejak peristiwa itu, Allah mengubah kehidupan orang kaya itu dengan menarik kembali harta kekayaannya hingga dia menjadi seorang yang fakir. Akhirnya, dia meninggal dunia dalam keadaan yang paling hina.
Anak gadis itu menjadi pengemis dan meminta-minta dari rumah ke rumah. Maka pada suatu hari anak gadis itu menghampiri rumah seorang kaya sambil meminta sedekah, maka keluarlah seorang ibu dari rumah itu.
Ibu itu terpegun dengan kecantikannya dan mempelawa anak gadis itu masuk ke rumahnya. Ibu itu sangat tertarik dengan gadis itu dan berhajat untuk mengahwinkan anaknya dengan gadis berkenaan. Maka, selepas perkahwinan itu selesai, si ibu itu pun memberikan pakaian dan perhiasan bagi menggantikan pakaiannya.
Pada suatu malam apabila sudah dihidang makanan malam, maka si suami hendak makan bersamanya. Anak gadis itu kudung tangannya dan suaminya juga tidak tahu bahawa dia kudung kerana ibunya merahsiakan perkara itu. Apabila suaminya menyuruh dia makan, lalu dia makan dengan tangan kiri. Apabila suaminya melihat keadaan isterinya itu dia pun berkata: “Aku mendapat tahu bahawa orang fakir tidak tahu dalam tata cara harian, oleh itu makanlah dengan tangan kanan dan bukan dengan tangan kiri.” Selepas si suami berkata demikian, maka isterinya itu tetap makan dengan tangan kiri, walaupun suaminya berulang kali memberitahunya. Dengan tiba-tiba terdengar suara dari sebelah pintu: “Keluarkanlah tangan kananmu itu wahai hamba Allah, sesungguhnya kamu telah mendermakan sepotong roti dengan ikhlas keranaKu, maka tidak ada halangan bagiKu memberikan kembali akan tangan kananmu itu.” Setelah gadis itu mendengar suara itu, maka dia pun mengeluarkan tangan kanannya dan mendapati tangan kanannya berada dalam keadaan asalnya. Dia pun makan bersama suaminya dengan menggunakan tangan kanan. Hendaklah kita sentiasa menghormati tetamu kita, walaupun dia fakir. Sesungguhnya apabila dia datang ke rumah kita, maka dia adalah tetamu kita. Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Barang siapa menghormati tetamu, menghormatiku, maka sesungguhnya dia telah memuliakan Allah. Dan barang siapa telah menjadi kemarahan tetamu, dia telah menjadi kemarahanKu. Dan barang siapa menjadikan kemarahanKu, sesungguhnya dia telah menjadikan murka Allah.” Sabda Rasulullah yang bermaksud: “Sesungguhnya tetamu itu apabila dia datang ke rumah seseorang mukmin itu, maka dia masuk bersama dengan seribu berkat dan seribu rahmat.”

BACALAH YASIN
Bacalah Yasin (Tapi wajib bertajwid dan mengikut adabnya). Rasulullah s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: “Bacalah surah Yassin kerana ia mengandungi keberkatan.” iaitu:
1. Apabila orang lapar membaca surah Yassin, ia boleh menjadi kenyang.
2. Jika orang tiada pakaian boleh mendapat pakaian.
3. Jika orang belum berkahwin akan mendapat jodoh.
4. Jika dalam ketakutan boleh hilang perasaan takut.
5. Jika terpenjara akan dibebaskan.
6. Jika musafir membacanya, akan mendapat kesenangan apa yang dilihatnya.
7. Jika tersesat boleh sampai ke tempat yang ditujuinya.
8. Jika dibacakan kepada orang yang telah meninggal dunia, Allah meringankan seksanya.
9. Jika orang yang dahaga membacanya, hilang rasa hausnya.
10. Jika dibacakan kepada orang yang sakit, terhindar daripada penyakitnya.
11. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya setiap sesuatu mempunyai hati dan hati al-Quran itu ialah Yassin. Sesiapa membaca surah Yassin, nescaya Allah menuliskan pahalanya seperti pahala membaca al-Quran sebanyak 10 kali.
12. Sabda Rasulullah s.a.w. lagi, “Apabila datang ajal orang yang suka membaca surah Yassin pada setiap hari, turunlah beberapa malaikat berbaris bersama Malaikat Maut. Mereka berdoa dan meminta dosanya diampunkan Allah, menyaksikan ketika mayatnya dimandikan dan turut menyembahyangkan jenazahnya.”
13. Malaikat Maut tidak mahu memaksa mencabut nyawa orang yang suka membaca Yassin sehingga datang Malaikat Redwan dari syurga membawa minuman untuknya. Ketika dia meminumnya alangkah nikmat perasaannya dan dimasukkan ke dalam kubur dengan rasa bahagia dan tidak merasa sakit ketika nyawanya diambil.
14. Rasulullah s.a.w. bersabda selanjutnya: “Sesiapa bersembahyang sunat dua rakaat pada malam Jumaat, dibaca pada rakaat pertama surah Yassin dan rakaat ke dua Tabaroka, Allah jadikan setiap huruf cahaya dihadapannya pada hari kemudian dan dia akan menerima suratan amalannya ditangan kanan dan diberi kesempatan membela 70 orang daripada ahli rumahnya tetapi sesiapa yang meragui keterangan ini, dia adalah orang-orang yang munafik.”

Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Muhammad Ibnu Fadhil: Mengkaji Injil Dan Al-Quran

PAGI itu cuaca tampak cerah. Serang, sebuah kota kecil di bahagian Barat pulau Jawa, seperti biasa telah disibukkan dengan aktiviti warganya. Tak terkecuali dengan keadaan kampus Universiti Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di kota tersebut. Pagi itu, mahasiswa berdatangan untuk menimba ilmu. Tapi, pagi itu pula, ada yang bedanya dengan kampus tersebut. Sebuah kain rentang terpampang di depan kampus: “Selamat Datang Muhammad Ibnu Fadhil (Aby Yatim): Mengapa Saya Memilih Islam. Bedah Injil dan al-Quran.”
Rupanya pagi itu, tepatnya di Masjid Syeikh Nawawi al-Bantani, yang terletak di dalam kampus itu sedang diadakan pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad s.a.w. Kali ini, acaranya sedikit berbeda. Kerana penceramah secara khusus akan memperbincangkan perbandingan dua kitab suci agama yang berbeda, yakni al-Quran dan Injil. Dan, penceramah tersebut tak lain adalah seorang saudara baru (mualaf).

Islam dan Kekerasan

Aby Yatim, begitulah ianya dikenali, adalah seorang mualaf yang lahir dari keluarga bukan Islam. Dia telah menghabiskan waktu selama dua tahun enam bulan untuk mengkaji kebenaran Islam. Tidak mudah baginya untuk menjadi seorang muslim. Sebab, sebelum menjadi seorang muslim, dia adalah seorang aktivis gereja (pengamal kitab injil).  “Saya melakukan kajian banding antara kitab Injil Kristian Protestan yang selama ini saya anggap sebagai sebuah kebenaran dan dapat menyelamatkan kehidupan manusia,” jelasnya. Tapi, lanjutnya, dia mulai meragukan kitab Injil manakala dia mencuba membandingkannya dengan al-Quran.
“Ketika saya masih menjadi penganut agama terdahulu, saya bertugas ‘memurtadkan’ umat Islam yang kurang faham dan mengerti tentang Islam. Para senior saya ketika masih memeluk agama terdahulu melakukan sebuah kajian Islam (Islamologi). Islamologi dalam lingkungan misionaris dijadikan alat untuk mempengaruhi umat Islam yang kurang memiliki pengetahuan dan kefahaman mendalam,” tutur ayah kepada dua orang anak ini. Mereka, lanjut Aby Yatim, menyebutkan satu penggalan ayat dalam al-Quran yang bermaksud:, “Jika engkau ingin membalas, maka balaslah dengan kejam.” Ayat ini dijadikan dasar untuk menghentam Islam. Menurut mereka, Islam mengajarkan kekerasan dan permusuhan. “Timbul pertanyaan dari saya, benarkan sebuah agama mengajarkan hal demikian? Tentu saja apa yang dikatakan senior saya itu tidak mentah-mentah saya terima. Ibarat memakan buah rambutan, saya pun perlu mengupas terlebih dulu sebelum memakan dan menelannya. Saya pun melakukan pengkajian sendiri dengan mengacu pada rujukan-rujukan yang dimiliki umat Islam untuk menemukan sebuah kebenaran bahawa apakah benar Islam mencintai permusuhan,” jelasnya, penuh serius. Setelah dia kaji, Islam ternyata tidaklah demikian. Saat itu Aby Yatim menemukan sebuah hadis Nabi s.a.w. yang berbunyi: “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai seseorang seperti dia mencintai dirinya sendiri.” Ini bukti bahawa Islam ternyata agama yang sangat mencintai damai dan perdamaian. Islam bukanlah agama kekerasan. Sejak itulah dia membantah bahawa Islam itu agama kekerasan. Lebih lanjut dia menjelaskan bahawa dalam kitab Injil mulai dari Kitab Kejadian hingga Wahyu, ternyata Jesus tidak pernah mengatakan bahawa dirinya adalah Tuhan. Itulah sebabnya saya berkeyakinan bahawa Jesus bukanlah Tuhan. Ini berbeda dengan al-Quran. Dalam kitab suci umat Islam, Allah secara tegas menyatakan bahawa Dia-lah Tuhan. Allah berfirman: “Allah menjelaskan bahawa tiada Tuhan selain Dia. Demikian pun malaikat dan orang-orang berilmu; bahawa Dia berdiri dengan keadilan. Tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Perkasa lagi Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18) Aby Yatim juga menegaskan bahawa dia berkeyakinan hanya dalam Islam adanya keselamatan. Sementara dalam agama Kristian, baik Katolik mahupun Protestan, tidak ada keselamatan. “Saya telah buktikan ketika membuka Injil dalam Kitab Wahyu (penutup) Pasal 22 ayat 18 dan 19. Pada ayat 18 berbunyi: “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan dari Kitab ini jika seorang menambahkan sesuatu kepada setiap perkataan-perkataan ini maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam Kitab ini,” tegasnya, memetik dari Kitab Injil. Abi yatim melanjutkan bahawa pada ayat 19 berbunyi: “Dan jika seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari Kitab ini maka akan mengambil bahagianNya dari pohon kehidupan dan dari Kota Kudus seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” Kalau kita menilik ayat 18, tegasnya, maka yang menambahkan surah dia mengikrarkan diri masuk Islam. “Sebelumnya saya melakukan dialog dengan KH. Tb. Fadhol Adhim Khatib dari jam 8.00 hingga 12.00. Sejak itulah saya kemudian diberi nama Islam oleh beliau,” ungkap lelaki yang kini menumpukan aktivitinya sebagai penceramah di beberapa tempat ini. “Setelah saya resmi menjadi seorang muslim,” kata dia, “Isteri saya masih memeluk agama terdahulu. Saya lalu memberi kata dua kepada dia untuk memilih. Apakah dia mahu ikut dengan saya atau tetap dengan keyakinan yang lama. Saya katakan bahawa selama saya melakukan kajian perbandingan dua kitab suci antara Injil dan al-Quran, ternyata kebenaran ditemukan dalam al-Quran. Saya lalu beri waktu kepada dia selama tiga bulan untuk berfikir,” jelasnya. “Kalau dia mahu tetap dengan saya, maka dia harus datang dan menemui saya di Serang, Banten. Kalau selama itu dia tidak datang ke Serang, Banten, maka itu ertinya dia masih tetap memilih agama yang lama, dan itu bermakna dia bukan isteri saya lagi,” katanya.


Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Bacaan Rasulullah Dalam Solat Asar

DALAM sebuah hadis, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Solatlah kalian sebagaimana kalian melihatku solat.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad). Ertinya, solat yang dilaksanakan umat Islam, mahu tak mahu, harus meniru solat Nabi s.a.w. Hal itu tak saja terkait rukun, syarat, tata cara dan adab solat. Lebih dari itu, masalah sunnah pun, sebaik mungkin diusahakan meneladani apa yang pernah dilakukan Rasulullah, termasuk soal bacaan surah. Memang, surah yang dibaca Nabi s.a.w. dalam solat berbeda-beda. Hal itu tergantung solat yang dikerjakan. Dalam satu waktu, Nabi s.a.w. membaca surah panjang. Dalam waktu yang lain, Nabi s.a.w. membaca surah pendek. Lalu, surah apa yang biasa dibaca Nabi s.a.w. (setelah membaca surat al-Fatihah) ketika melaksanakan solat asar? Setidaknya, ada beberapa riwayat yang menegaskan bacaan Rasulullah saat menunaikan solat asar. Dalam sebuah riwayat disebuatkan: “Pada rakaat pertama dan kedua baginda membaca al-Fatihah dan dua surat (satu rakaat, satu surah). Baginda memanjangkan bacaan pada rakaat pertama, tidak sebagaimana bacaan pada rakaat kedua.” (HR. Bukhari dan Muslim). Para sahabat menduga, Rasulullah melakukan hal itu agar orang-orang mendapati rakaat pertama (HR. Abu Daud). Dalam hadis yang lain, disebutkan bahawa “Rasulullah membaca pada dua rakaat tersebut sekitar lima belas ayat, kurang lebih sama dengan setengah bacaan baginda pada rakaat pertama dari solat zuhur.” (HR. Muslim). Tapi, Muhammad Nashirudin al-Albani, dalam buku Sifat Solat Nabi, menulis bahawa Rasulullah dalam solat asar membaca surah-surah al-Quran sebagaimana yang dilakukan di dalam solat zuhur. Dengan kata lain, Rasulullah s.a.w. membaca surah-surah sebagaimana yang baginda baca dalam solat zuhur, seperti(ath-Thariq), (al-Buruj)(al-Lail) dan surah-surah yang semisal.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Beberapa hadis di atas “menegaskan” bahawa pilihan surah al-Quran yang dibaca oleh Nabi s.a.w. tergantung solat yang ditunaikan. Sementara itu, dalam solat asar, bacaan surah yang dipilih Nabi s.a.w. sama dengan bacaan-bacaan yang biasa Nabi s.a.w. baca dalam solat zuhur. Jadi, bacaan surah-surah yang dibaca atau dipilih Rasulullah dalam solat asar – sebagaimana — disebutkan dalam riwayat di atas, tentu saja, boleh menjadi perbandingan atau rujukan.

Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Jangan Terpesona Keramat Wali Allah

KEPADA Sultan al-‘Arifin, Abu Yazid al-Bustami pernah diberitakan bahawa: “Si polan boleh berjalan ke Makkah hanya dalam satu malam”. Lalu dia menjawab: “Syaitan juga boleh berjalan hanya satu saat dari timur ke Barat dalam keadaan dia dilaknat oleh Allah.”  Pada waktu yang lain diberitakan kepada beliau bahawa: “Si polan boleh terbang di udara”. Lalu beliau menjawab: “Lalat juga boleh terbang seperti itu.” Pada ketika yang lain diberitakan pula kepada beliau bahawa: “Si polan dapat berjalan di atas sungai.” Lalu beliau menjawab: “Ikan juga boleh berbuat begitu.” Dalam kitab ar-Risalah al-Qudsiyyah karangan Zainuddin al-Hafy disebutkan bahawa: “Semua guru-guru yang mursyid mengajar murid-murid mereka supaya jangan cenderung menginginkan keramat zahir dan menggalakkan mereka supaya lebih cenderung kepada kebenaran berbanding daripada memperturutkan keinginan hawa nafsu.” Cuba perhatikan bahawa Sultan al-‘Ariffin, Abu Yazid, moga-moga Allah mensucikannya, adalah beliau berlindung dengan Allah daripada perkara-perkara yang disebut di atas dan yang seumpamanya, sebagaimana yang dinukilkan dalam buku Hill ar-Rumuz min Qut al-Qulub, dalam munajatnya, beliau bermadah: “Ya Allah, Tuhanku, ada segolongan kaum meminta kepadaMu, lalu Engkau memberi mereka berupaya berjalan di atas air dan terbang di udara, maka mereka pun suka dengan yang demikian, akan tetapi aku berlindung denganMu daripada perkara yang sedemikian. Segolongan kaum pula meminta kepadaMu, lalu Engkau berikan kepada mereka supaya memijak seluruh bumi, maka mereka pun suka dengan yang demikian, akan tetapi aku berlindung denganMu daripada yang sedemikian. Segolongan lain meminta kepadaMu, lalu Engkau berikan kepada mereka kekayaan bumi dan orang ramai pun berdatangan kepada mereka, maka mereka pun suka dengan yang demikian, akan tetapi aku berlindung denganMu daripada yang sedemikian...” sehinggalah beliau menyebutkannya lebih daripada dua puluh makam wali-wali. Perhatikanlah betapa tinggi cita-cita dan himmah serta kekuatan hati beliau. Beliau hanya rela dengan apa yang diredhoi oleh Allah. Diriwayatkan bahawa Abu Hafsh al-Hadad pernah berkata kepada kawan-kawannya dalam suatu perjalanan di tengah padang pasir: “Jikalau ada kambing disini bolehlah kita sembelih”. Tiba-tiba muncul seekor kijang dari arah lain dan terus berhenti di hadapan Abu Hafsh. Semua sahabat Abu Hafsh merasa gembira, tetapi Abu Hafsh berdukacita dan menangis. Abu Hafsh ditanya kenapa dia berdukacita dan menangis Abu Hafsh menjawab: “Diberi apa yang dikehendaki, bermakna kita dikeluarkan dari pintu. Jikalau tidak diberikan apa-apa yang dikehendaki oleh Firaun, nescaya dia tidak akan terus menerus dalam kebathilannya.” Kemudian Abu Hafsh melepaskan kijang itu. (Begitulah yang termaktub dalam kitab Hill ar-Rumuz). Berkata Abu Yazid Rahimahullah: “Jikalau kamu melihat atau mengetahui seseorang diberikan keramat seperti terbang di udara, menghidupkan orang mati dan menyingkatkan perjalanan yang jauh, sehinggakan dia boleh duduk bersila di udara, maka janganlah kamu tertipu dengannya, jangan kamu Iktikadkan kewaliannya dan dekatnya kepada Allah, kerana perkara itu boleh jadi istidraj daripada Allah, sehinggalah kamu dapat mengenalinya bagaimana dia melaksanakan suruhan, larangan dan memelihara hukum-hukum Allah dan bagaimana dia mengamalkan syariat.” (Bariqah Mahmudiyyah fi Syarh Thariqah Muhammadiyyah, wa Syari’ah Nabawiyah fi Sirah Ahmadiyyah: 1/112-114). Apa erti istidraj? Ulama memberi makna istidraj itu ialah umpan untuk mengeluarkan seseorang daripada garis lurus kebenaran dengan tidak disedari. Diperturut apa-apa yang dia mahu dan dibukakan segala pintu sehinggalah dia lupa diri, yang akhirnya membawa jauh tersesat dan datang azab sekonyong-konyong. Sabda Nabi s.a.w. Maksudnya: “Dan jika engkau lihat Allah memberikan sebahagian keduniaan kepada hambaNya, apa sahaja yang diingininya dengan dengan kemaksiatannya, maka pemberian yang demikian adalah istidraj.”(HR. Imam Ahmad) Berkata pengarang Jauhar at-Tauhid: “Sesungguhnya wali Allah itu tidak mengetahui yang dia sebenarnya adalah seorang wali.” Pengarang berpendapat demikian dengan memberi alasan bahawa seseorang wali Allah itu menjadi wali hanyalah disebabkan hak (kebenaran) itu mencintainya, bukan kerana dia mencintai kebenaran. Cintakan kebenaran itu pula suatu rahsia yang tidak dapat diselami oleh sesiapapun melainkan oleh orang-orang yang tertentu daripada kalangan mereka yang dikehendaki oleh Allah sahaja. Selain daripada itu, ketaatan seseorang hamba itu tidak akan dapat memberi kesan kepada cintakan kebenaran itu, kerana ketaatan adalah baharu, sedangkan sifat-sifat hak (kebenaran) pula adalah qadim (abadi). Kemudian, ketetapan yang menunjukkan dianya seorang wali Allah, atau dia sebagai salah seorang ahli syurga dan akan menerima ganjaran pahala, adalah tertakluk keputusannya ketika dia menghadapi kematian. Dalilnya ialah firman Allah: “Sesiapa yang membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali ganda amalnya itu.”(Surah al-An’am: 160) Jalan pengambilan dalil ialah kerana dalam ayat itu disebutkan “sesiapa yang membawa”, dan ayat itu tidak menyebutkan: “sesiapa yang beramal kebaikan”. Oleh sebab itu adanya hak boleh menerima ganjaran pahala hanya diperolehi dari ketika menghadapi kematian, bukan dari mula beramal. Apa yang disebutkan di atas ini tidaklah menegah adanya tanda-tanda kewalian bagi seseorang. Di antara tanda-tanda kewalian itu ialah: Dalam perbuatan zahir patuh tunduk kepada syariah manakala dalam perbuatan batin tenggelam di lubuk hakikat ketuhanan dan tetap hadir bersama Allah. Sebagai dalilnya ialah: Hendaklah dia tidak mempunyai rakan (sesuatu) selain Allah.

Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Wanita Tua Itu Menangis

UNTUK kesekian kali, dia menangis. Perempuan senja itu. Dia mengaduh. Dia merintih ehwal dirinya yang serupa anak hilang ibu; kepada siapa harus mengadu, kepada apa dia harus menumpahkan senarai pilunya. Hidup bersama seorang anak dan menantu kerapkali menjadikannya tak ubahnya “pembantu”.
Ya, pembantu; bangun begitu awal-awal pagi dan istirahatnya begitu larut malam. Rutin. Selalu demikianlah setiap hari. Malam itu, kepada tetangganya, dia mengkhabarkan posisinya: mencuci pakaian dan menggosoknya, menanak nasi dan memasak lauk-lauknya, menyeka lantai setiap pagi, menyiapkan sarapan untuk ketiga cucunya yang akan ke sekolah, dan sejumlah tugas dalaman rumah lainnya. Air matanya berderai-derai meneriakkan kisahnya. Dia tak habis fikir, kenapa anak dan menantunya kerapkali bersekutu meremehkan bantuannya itu. Dia merasa tidak dihargai. Dia merasa gagal menjadi ibu. Dan tiba-tiba dia ingin sekali menyusul suaminya yang sudah pulang ke pelukan Ilahi terlebih dahulu. Sebenarnya, dia melapangkan hati untuk semua pekerjaan itu. Bukankah dia melakukannya demi kebaikan anak dan cucu-cucunya sendiri? Mereka bukan orang lain, darah dagingnya sendiri. Tapi, dia manusia. Dan manusia perlu harga diri dan mertabat. Hanya itu. Bukan yang lain. Dia memaklumi bahawa anak dan menantunya itu bekerja; namun, bukankah dia juga bekerja untuk urusan rumahtangga, untuk mengatur agar dapur rumah tetap berasap, agar lantai rumah tampak berkilau, agar cucu-cucunya terurus? Dan semuanya terasa menyesak di dada saat dia dianggap sekadar ‘penumpang’ yang tidak dihargai. Ah, sudahlah, Pembaca. Bukan tujuannya melengkapi kisah perempuan senja itu di kolom sederhana ini. Tapi, hikayat perempuan senja itu nyata dalam keseharian kita. Betapa banyak orangtua, khusus ibu,  menjadi “pembantu” untuk anaknya yang sudah berkeluarga. Alih-alih dirawat dan dimuliakan, dia malah “difungsikan”  serupa macam ‘kuli’ selepas dia menjanda; hidup seolah sebatang kara ketika suami dijemput maut lebih dahulu. Ya Allah. Semoaga saya dan anda bukan salah satunya.

Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Sedekah Dinginkan Panas Kuburmu

ENTAH betapa panasnya keadaan dalam kubur kita nanti hanyalah Allah saja yang tahu. Sedangkan kepanasan cuaca di dunia membuat setiap kita sudah merasa gelisah. Panas di dunia boleh disejukkan dengan ikhtiar kipas angin dan alat penghawa dingin yang kian canggih. Tetapi apabila berada dalam kubur, panasnya tidak dapat didinginkan dengan sebarang kipas. Cara untuk menyejukkannya ialah dengan pahala bersedekah. ‘Uqbah ibnu ‘Amir r.a. mengungkapkan, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya sedekah itu dapat memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sesungguhnya orang mukmin kelak pada hari kiamat hanya bernaung dalam naungan sedekahnya.” (HR. Thobroni) Itu adalah jaminan dari Rasulullah kepada umat Islam yang wajib kita yakini. Sedekah kelak memberikan pertolongan kepada para pelakunya. Ianya boleh mendinginkan panasnya kubur, dan memberikan naungan pada hari kiamat kelak. Sementara itu Abu Zar r.a. mengatakan, beberapa orang sahabat Nabi s.a.w. pernah bertanya kepada baginda, “Kaum hartawan dapat memperoleh harta yang lebih banyak. Mereka solat seperti kami solat. Mereka puasa seperti kami berpuasa, dan dapat bersedekah dengan sisa harta mereka.” Mendengar keluhan para sahabat, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bukankah Allah s.w.t. telah memberikan berbagai macam cara untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah. Setiap kalimat takbir adalah sedekah. Setiap kalimat tahmid adalah sedekah. Tahlil adalah sedekah. Mengajak kepada kebaikan dan melarang kejahatan (amar ma’ruf dan nahi munkar) adalah sedekah. Bahkan pada kemaluanmupun terdapat pula unsur sedekah.”

Selanjutnya dapatkan Hidayah Jun 2012 di pasaran...

Monday, May 14, 2012

Variasari Keluaran Mei 2012

Sudahkah anda memiliki Variasari edisi Mei 2012? Kalau belum dapatkan segera sebelum kehabisan...

Kami ucapkan jutaan terima kasih kepada pembaca yang sudi menatap majalah ini. Sokongan yang cukup memberansangkan hari demi hari amat kami hargai.

Variasari menyajikan anda bahan bacaan 100% misteri. Dijamin anda puas membaca kisah-kisah yang dipaparkan.Dapatkan segera majalah Variasari keluaran Mei 2012 sebelum terlambat. 

Amaran keras: Ibu-ibu mengandung tidak di galakkan membacanya.Harga cuma RM3.00 saja

Siri Bercakap Dengan Jin




Anda sedang membaca kisah yang turut dibaca oleh ribuan pembaca setia Siri Bercakap Dengan Jin sejak berpuluh tahun lamanya. Ia makin hangat diperkatakan oleh pembaca Variasari generasi kini. Pastikan anda terus mengikuti cerita bersiri ini ...

Antara Yang Menarik Dalam Variasari Mei 2012











Hidayah Mei 2012

Hidayah keluaran Mei 2012 sudah beredar di pasaran. Pastikan anda tidak ketinggalan memilikinya. Dapatkan segera sebelum kehabisan... Beli 2 naskhah...satu untuk anda satu lagi berikan pada jiran...!
Kami himpunkan
berbagai kisah-kisah menarik khusus buat tatapan anda untuk dijadikan iktibar. Isi kandungannya masih padat, cukup menawan sesuai dibaca semua lapisan masyarakat...Segera ke kedai-kedai buku berhampiran untuk mendapatkannya!

Senaskhah cuma RM3.90 sahaja

Iklankan Apa Saja Dalam Hidayah


Langganlah Segera Melalui Pos

Kepada pembaca yang melanggan secara online e-maikan kepada kami salinan resit bayaran bersama maklumat peribadi serta tarikh mula majalah yang anda ingin kami hantarkan...ke alamat: majalahhidayah@yahoo.com

Salam Kami

ASSALAMUALAIKUM WR.WBT.
SEGALA puji dan syukur ke hadrat Allah s.w.t. serta salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Alhamdulillah, kita bertemu lagi dalam tempoh kita bakal menuju pertengahan tahun 2012. Begitulah cepatnya masa berlalu. Kita saling kejar mengejar dengan masa. Dalam tempoh itu, marilah kita menoleh sejenak masa yang telah berlalu. Ramai saudara mara, kawan-kawan dan kenalan rapat dengan kita telah mendahului kita. Mereka kini telah berada dalam alam barzakh. Sememangnya mati itu terlalu rapat dan dekat dengan kita. Namun kita ini rasa mati itu masih jauh. Kononnya ‘biarlah yang lain-lain itu pergi dulu, kita akan menyusul kemudian’. Sebenarnya tidak begitu. Lambat atau cepat, kematian itu sesuatu yang pasti. Setiap hari orang-orang sekeliling kita mati. Jadi kita diminta bersedia untuk ‘mati’ dan berhak memilih kematian kita dengan kesudahan ‘husnul khatimah’. Keluaran kali ini Hidayah menyiarkan rencana khas bertajuk “Mayat Orang Mukmin Istimewa Dalam Kubur”. Semoga anda dapat memahami dan menghayatinya. Alangkah indahnya mati. Kubur bersiap sedia menghias diri untuk menerima jenazah orang-orang mukmin. Anda juga bakal menjadi sebahagian darinya. Fahami maksud hadis, “Siapa yang meminta Allah terbunuh di jalan Allah, secara tulus dari lubuk hatinya, maka Allah akan memberinya pahala mati syahid, sekalipun mati di atas tempat tidurnya.” (HR. At-Termizi dan Ahmad) Sementara itu dalam salah satu kisah iktibar di paparkan bagaimana seorang penyanyi dangdut yang mati jenazahnya disambut dengan petir yang berdentum di siang hari. Dalam ‘Kisah Haji’ ikuti pula bagai seorang ‘kaki sabung ayam’ yang menunaikan fardu haji dan telatahnya ketika berada di tanah suci. Sementara yang mengusik perasaan ialah mengenai kisah seorang petani kampung yang miskin begitu tulus ikhlas membantu orang lain akhirnya mendapat ganjaran dari hasil kebaikannya tanpa disangka-sangka. Bacalah halaman ‘Kisah Sedekah’.
Kita berharap kisah-kisah iktibar dan rencana-rencana yang dipaparkan dalam Hidayah pada setiap keluaran akan dapat membimbing dan membentuk kesedaran dan keinsafan dalam hati ini terhadap hakikat hidup ini. Kepada Allah kita pohonkan hidayah dan menetapkan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman, InsyaAllah. Terima kasih dengan sokongan berterusan anda terhadap kami.
Wassalam!

Pengarang
Shahimisaifulislam@yahoo.com.my.

Pencuri Kain Kafan Lihat Orang Baca Quran Dalam Kubur

KALAU kita ke kawasan tanah perkuburan, maka kita akan lihat keadaannya adalah tenang dan aman. Kita tidak mendengar apa-apa pun kecuali bunyi kicauan burung dan cengkerik. Tetapi sebenarnya di dalam lubang kubur itu ada berbagai suara yang mengerikan dan menakutkan. Keadaan mereka yang ada di dalam kubur itu ada berbagai-bagai. Kita sahaja sebagai manusia yang tidak dapat mendengarnya. Makhluk jin juga tidak dapat mendengarnya. Sebenarnya, ada jeritan dari mayat-mayat tersebut dimana mereka ada yang kena seksa. Berbagai alat-alat digunakan untuk penyeksaan tersebut. Ini semuanya dilakukan kepada mereka yang berdosa, yang melanggar perintah Allah s.w.t. Mereka tidak membaca al-Quran, mereka melakukan kejahatan berulang-ulang. Ketaatan kepada Allah tidak dilakukan. Dan sebab itulah mereka diseksa. Bagi orang-orang salih kadang-kadang dia ingin melihat bagaimana seksaan itu berlaku. Dalam rencana ini diceritakan bagaimana seorang tua berdoa kepada Allah s.w.t. supaya disingkapkan misteri kisah orang-orang yang meninggal dunia. Cuba ikuti kisahnya: Seorang lelaki tua pernah mengatakan bahawa dia berdoa kepada Allah agar disingkapkan untuknya misteri orang-orang yang meninggal dunia. Suatu malam, dia bermimpi kalau hari kebangkitan telah terjadi dan orang-orang yang meninggal dunia keluar dari kubur mereka. Dia mendapati sebahagian dari mereka berpakaian sutera yang indah, yang lainnya di atas singgahsana yang mulia, sebahagian lainnya di atas bunga-bunga, dan yang lainnya tertawa-tawa, tapi ada juga yang menangis. Seseorang berbicara kepada orang-orang yang telah meninggal dunia itu bahawa perbezaan sudah dibuat, kerana perbuatan yang mereka lakukan berbeza kadarnya. Orang-orang yang berpakaian sutera adalah mereka yang sering melakukan perbuatan baik, mereka yang yang berada di singgahsana mulia adalah para syuhada, mereka  yang berbaring di atas bunga-bunga adalah orang yang sering berpuasa. Sedang mereka yang menangis adalah para pendosa. Orang-orang yang berstatus tinggi (mereka yang berbaringan di atas singgahsana yang mulia) adalah mereka yang selalu riang dalam ketaatan terhadap Allah. Sebuah cerita beredar bahawa ada seorang pencuri kain kafan yang setelah menggali kubur, dia kerap mengambil peti-peti jenazah. Ketika dia menggali sebuah kubur, dia mendapati seorang lelaki yang sedang membaca Al-Quran di atas sebuah singgahsana yang tinggi, yang di bawahnya terdapat sungai yang mengalir. Dia menjadi sangat ketakutan hingga jatuh pengsan. Orang ramai kemudian menyeretnya keluar dari kubur. Setelah tiga hari, dia tersedar kembali, mereka pun menanyakan sebab dia pengsan. Dia menceritakan semua kejadian itu. Sebahagian orang yang ingin melihat kubur itu, memintanya membawa mereka ke sana. Dia sudah siap melakukan hal itu, tetapi di malam hari dia melihat seorang lelaki tua dalam mimpinya yang melarangnya melakukan hal itu, kalau tidak dia akan masuk kubur dan mendapatkan kesulitan. Ketika terbangun dari mimpi, dia memutuskan tidak menceritakan kepada siapa pun tentang lokasi kuburan itu. Bara ibnu Azib mengatakan bahawa Nabi s.a.w. bersabda, ketika orang yang tidak beriman mengungkapkan ketidak tahuannya, terdengar sebuah suara dari langit bahawa ia telah berbohong dan kerananya api neraka yang membara telah dikobarkan untuknya. Dia akan diselimuti pakaian api, pintu neraka akan dibuka, dan akan melewati panasnya neraka. Kuburnya akan mengerut sedemikian rupa, sehingga satu sisi rusuknya menusuk sisi yang lain, kemudian penjaga yang buta dan tuli ditempatkan untuk menyeksanya. Penyeksa memiliki sebuah alat penukul besi yang sangat berat sehingga sekali pukul dapat membuat sebuah gunung menjadi hancur. Lebih lanjut dia mengatakan bahawa ketika penjaga itu memukul jenazah dengan penukul besi, ia menjadi debu dan suara yang dikeluarkan akibat dari pukulan itu terdengar semua makhluk hidup dari barat sampai ke timur, kecuali manusia dan jin. Setelah itu, tubuhnya dipulihkan lagi.

Selanjutnya dapatkan Hidayah Mei 2012 di pasaran...