Wednesday, June 2, 2010

Sunan Drajat Wali Allah Yang Dermawan

Anak kecil itu berwajah manis. Garis-garis kecomelan menjalari mukanya. Oleh si ibu, ia amat disayangi. Maklumlah, Raden Qosim adalah anak bungsu yang pemalu. Limpahan kasih seperti berlebih diterimanya. Apa lagi si bongsu ini memang bersopan santun dan lembut. Siapa pun akan merasa terpanggil untuk menyayanginya. Di pondok pesantren yang dipimpin ayahnya, Sunan Ampel, Raden Qasim terlihat jarang bermain-main. Waktunya lebih banyak ia habiskan di rumah. Dia pun tak ambil peranan dalam pengelolaan pondok pesantren di Ampeledenta itu sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Bonang, abangnya. Sekalipun begitu, seperti anak orang alim lainnya, Raden Qosim memiliki tanggungjawab belajar. Ia mengaji, mengenal ayat-ayat Allah dan hadis Rasulullah. Ia juga mendalami ilmu fikih dan tauhid. Raden Qosim pun membesar menjadi anak muda yang berilmu. Hatinya yang lembut semakin terasa saat ia sering mengikuti ayahnya berdakwah. Di daerah yang dilaluinya, ia melihat sendiri bagaimana kemiskinan begitu mencekik. Wajah-wajah pucat kurang darah, kerana tidak cukup zat makanan secara layaknya, ia temui hampir di semua tempat. Tak hanya orang tua lanjut usia, anak-anak remaja yang seharusnya bertenaga juga harus menanggung akibat kemiskinan itu. Kemiskinan tersebut menyertakan juga penderitaan, penyakit, kekurangan makanan dan pakaian dan kebodohan. Pada suatu hari, Raden Qosim menyaksikan Sunan Bonang bersama sahabatnya, Raden Paku, berkemas berangkat ke negeri seberang. Tahulah ia, si abang bersama temannya, yang di kemudian hari dikenal sebagai Sunan Giri, hendak menuntut ilmu ke negeri seberang. Setelah melepas mereka berangkat, dalam diam-diamnya, Raden Qosim ternyata punya hasrat yang sama: ingin mengembara mencari tambahan ilmu. Tetapi si ibu tidak mengizinkan anaknya berangkat. Nyai Ageng Manila merasa tak kuasa menahan kerinduan dan kesepian jika anaknya itu juga berangkat. Raden Qosim memang yang paling dekat dengan ibunya. Apalagi menurut Nyai Ageng Manila, Raden Qosim belum cukup dewasa untuk menempuh perjalanan jauh. Ayahnya juga menganjurkan Raden Qosim untuk tinggal. “Ilmu juga ada di sini, Qosim, tak perlu kau pergi jauh-jauh,” ujar Sunan Ampel mencegah hasrat anaknya. Saat usia Raden Qosim beranjak dewasa, tugas dakwah tetap harus ia tunaikan. Sekalipun hati si ibu berat melepas dirinya, tugas suci menegakkan kalimah Allah harus diutamakan. “Berlayarlah ke pesisir Barat Gresik, di sana ada daerah yang menunggu kerja dakwahmu,” ujar Sunan Ampel. Dengan menumpang perahu nelayan, Raden Qosim berlayar dari pelabuhan di Surabaya. Angin yang baik sepertinya akan membuat pelayaran Raden Qosim lancar. Selepas pelabuhan tak ada tanda-tanda bahawa cuaca akan melawan. Tetapi saat sudah berada di tengah-tengah lautan, tiba-tiba turun badai. Biduk itu terumbang-ambing. Akhirnya segolong ombak besar membuat perahu nahas itu hancur berkeping-keping. Si nelayan terlempar tak diketahui nasibnya. Sementara Raden Qosim masih mampu meraih pendayung perahu dan menjadikannya sebagai alat mengapung.
Seekor ikan Talang besar tiba-tiba muncul dan berenang mendekati Raden Qosim. Ikan itu membentangkan belakangnya untuk dinaiki Raden Qosim. Lelaki berhati lembut itu dengan gembira dan rasa syukur kemudian menaikinya. Diriwayatkan, tak hanya ikan Talang yang menolong Raden Qosim, seekor ikan Cucut juga mempersilakan dirinya dinaiki adik Sunan Bonang ini. Dengan cepat kedua ikan itu melaju membawa Raden Qosim lepas dari badai yang mengganas. Tak berapa lama, Raden Qosim dapat selamat sampai di pantai nelayan yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Inilah kisah “karamah” paling mashyur Raden Qosim yang mengingatkan kita kepada kisah Nabi Yunus a.s. yang juga pernah berada dalam perut ikan Nun. Kisah penyelamatan ikan ini dicatat terjadi pada tahun 1485 M. Kedatangan Raden Qosim ternyata sudah dinantikan dua orang tokoh penting di Jelak, iaitu Embah Mayang Madu dan Embah Banjar. Dua orang ini telah memeluk Islam dan mempersilakan dirinya membantu kerja dakwah Raden Qosim di daerahnya. Sebuah surau kemudian didirikan Raden Qosim sebagai sarana awal dakwahnya. Surau yang didirikan lelaki yang berhati lembut itu seperti memanggil orang–orang untuk mengenal Allah s.w.t. dan agamanya. Lambat laun pengajian yang dikendalikan oleh Raden Qosim dibanjiri peminat. Surau itu pun beranjak beralih fungsi menjadi pondok pesantren. Akhlaknya yang mulia serta kedermawanannya menjadikan Raden Qosim mendapat simpati luas. Dakwah Islam yang dilakukannya memberi angin segar bagi pertumbuhan wilayah itu, baik secara sosial mahupun ekonominya.

Seterusnya dapatkan Hidayah keluaran Jun 2010 di pasaran...

No comments: