Monday, July 11, 2011

Bijak Menghadapi Orang-Orang Bodoh

ROMBONGAN orang berbaju hitam itu seperti muncul dari balik kegelapan. Tidak disangka oleh seorang pun dari penduduk Makkah jika rombongan itu tiba-tiba memasuki kota Makkah dengan gagah berani. Tak sedikit pun raut cemas di wajah mereka. Pun saat mereka memasuki kota itu, tak ada rasa takut sedikit pun yang mencekam mereka. Wajah mereka berbinar, tak menyiratkan bimbang. Rombongan yang datang ke Makkah dengan gagah dan memakai baju hitam itu berjumlah sepuluh orang. Mereka semua lelaki. Mereka datang seakan dituntun oleh langkah kaki yang tangguh, dan tegap untuk mencari kebenaran. Dan dari sorot mata mereka, terlihat tak mengenal lelah, tak takut bahaya. Tentu, kedatangan mereka langsung membuat warga kota Makkah terkejut. Kegusaran terjadi. Bisik-bisik di antara orang-orang Makkah pun seketika mengundang rasa ingin tahu. Sebabnya, penduduk kota Makkah tahu bahawa orang-orang itu, setelah dilihat dari pakaian yang dikenakan, adalah penganut Nasrani. Sebab, pada waktu itu, pakaian hitam yang dikenakan tersebut adalah simbol dari pakaian orang-orang Nasrani. Tak mustahil, jika di hati orang-orang Makkah dalam sekejap digelayuti tanda tanya besar dan segumpal pertanyaan yang mengundang hairan. Rasa curiga menyeruak: ada apa rombongan itu datang ke kota Makkah? Pasalnya, orang-orang itu tidak pernah mendatangi Makkah sebelumnya. Jadi, dapat dipastikan bahawa kedatangan mereka itu dilatarbelakangi masalah yang penting. Penduduk Makkah bertanya-tanya. Jawapan melegakan pun tak kunjung didapatkan. Hingga akhirnya, orang-orang Quraisy itu tahu jika rombongan itu datang dari Najran. Orang-orang Quraisy tahu setelah salah satu dari rombongan bertanya kepada mereka untuk memberitahukan keberadaan Rasulullah s.a.w. Jadi, kedatangan orang-orang Najran ke Makkah itu kerana mereka hendak menemui Rasulullah s.a.w. setelah mendengar khabar tentang kenabiannya dari para sahabat yang berhijrah ke Habasyah. Setelah dikhabari bahawa Rasulullah s.a.w. ada di sekitar Kaabah, orang-orang Najran pun menemui Rasulullah yang saat itu sedang di sekitar Kaabah. Kehadiran rombongan dari Najran itu disambut baik Rasulullah. Bahkan, Rasulullah menerima kedatangan mereka dengan tangan terbuka, senyum mengembang dan penuh persahabatan. Tapi pada sisi lain, di hati orang-orang Quraisy justeru berkecamuk kecurigaan. Dari kejauhan, beberapa orang Quraisy mengamati tempat dimana terjadi pertemuan antara Rasulullah dan orang-orang Najran. Orang-orang Quraisy merasa tersinggung, sebab mengetahui kedatangan orang-orang Najran bukan untuk bertemu mereka, tapi bertemu Rasulullah s.a.w. Dalam hati, orang-orang Quraisy merasa iri. Lalu bergelayut pertanyaan: apa Rasulullah sudah begitu terkenal? Orang Quraisy terus mengamati pertemuan Nabi s.a.w. dan rombongan dari Najran itu. Dengan segala cara, mereka berusaha mencuri tahu apa yang diperbincangkan Rasulullah dengan orang-orang Najran itu. Tetapi, kedatangan orang-orang dari Najran ke Makkah - dengan tujuan menemui Rasulullah dan bukan menemui orang-orang Quraisy - itu membuat dada mereka merasa seketika dicekam kedengkian. Dada mereka membuncah hebat kerana ditikam perasaan iri, dengki dan sakit hati akibat peristiwa tersebut. Perasaan dengki itu pun kemudian melahirkan kemarahan kerana mereka benar-benar telah dibuat naik darah. Apalagi, orang-orang Quraisy yang mengintai dari jauh itu melihat dengan jelas kalau Rasulullah kemudian membacakan al-Quran kepada orang-orang dari Najran tersebut. Sementara itu, rombongan Najran mendengarkannya dengan seksama, takzim dan penuh perhatian. Tapi saat kecamuk hairan itu belum usai sepenuhnya, dalam sekejap kemudian tiba-tiba disusul kehairanan yang lain. Orang-orang musyrik terhairan-hairan saat melihat dengan jelas, orang-orang Najran itu menangis setelah mendengar bacaan al-Quran yang dibacakan Rasulullah. Bahkan, tidak lama kemudian, kehairanan orang-orang musyrik Makkah itu pun semakin menggumpal kerana mereka melihat orang-orang Najran kemudian berdiri dan berbai’at kepada Rasulullah, mempercayai bahawa Muhammad bin Abdullah sebagai utusan Allah. Sebab, orang-orang Najran tidak dapat menyangkal bahawa mereka mengetahui ciri-ciri kenabian itu dari Injil. Pertemuan antara orang-orang Najran dengan Rasulullah itu pun segera menjadi perbincangan hangat di antara orang-orang Quraisy Makkah. Orang-orang Quraisy pun kemudian menyusun rencana dan ingin menyerang mereka. Dengan kebencian dan rasa dengki itu, orang-orang musyrik Makkah pun sudah beritikad akan membuat perhitungan dengan orang-orang Najran tersebut. Tapi, niat jahat itu akhirnya diurungkan setelah beberapa orang dari orang-orang musyrik Makkah mempertimbangkan akan akibat-akibat yang tidak diinginkan.

Selanjutnya dapatkan Hidayah Julai 2011 di pasaran...

No comments: